Thursday, March 3, 2016

Profil Tim PNPM Mandiri – Respek Tim Penggerak Kegiatan Distrik Bomela Kabupaten Yahukimo Provinsi Papua













Nama                   : Richard Kambu, ST

T.T.L                    : Ayamaru,
Jenis Kelamin     : Laki – Laki
Pendidikan         : Universitas Sains dan Teknologi Jayapura
Pekerjaan            : Pendamping Distrik Bomela PNPM Mandiri
Asal Daerah        : Ayamaru, Kab. Maybrat Provinsi Papua Barat
Alamat                : Kamkey BTN Bawah, Abepura – Jayapura





T.T.L               : Bomela,
Jenis Kelamin : Laki – Laki
Pendidikan   : SMA YPK Betlehem Wamena
Pekerjaan       : Ketua TPKD Distrik Bomela
Asal Daerah  : Bomela, Kabupaten Yahukimo Provinsi Papua
Alamat           : Jl. Seradala KM. 02 Dekai, Kabupaten Yahukimo
 




Nama                 : Timeus Aruman, Amd. Tek
T.T.L                  : Bomela, 17 Mei 1984
Jenis Kelamin   : Laki – Laki
Pendidikan       : Universitas Sains dan Teknologi Jayapura
Pekerjaan          : Sekretaris TPKD Distrik Bomela
Asal Daerah      : Bomela, Kabupaten Yahukimo Provinsi Papua
Alamat               : Kamkey, BTN Atas, Abepura – Jayapura







Nama                 : Yafdas Aruman
    T.T.L                  : Bomela,
    Jenis Kelamin   : Laki – Laki
    Pendidikan       : SD YPK Bomela
    Pekerjaan          : Bendahara TPKD Distrik Bomela
   Asal Daerah      : Bomela, Kabupaten Yahukimo Provinsi Papua          
    Alamat              : Jl. Seradala KM. 02 Dekai Kabupaten Yahukimo
                                                                                                                                   

World AIDS Day 2014 - IM-GJRP



Ikatan Mahasiswa Gereja Jemaat Reformasi Papua (IM-GJRP) siap mendukung upaya pemerintah, LSM dan masyarakat dalam kepedulian kemanusiaan.

Save Papua!

Kebijakan Pro Pendidikan Tim PNPM Mandiri Mewujudkan Impian dan Harapan Masyarakat Distrik Bomela


A. UPAYA MEMBANGUN ASRAMA MERUPAKAN RENCANA GENERASI ERA 1980-an


Predikat ‘terbaik, termewah dan pertama’di Provinsi Papua” demikian pujian singkat Koordinator PNPM Mandiri – Respek Provinsi Papua di sela-sela peresmian asrama pelajar dan mahasiswa Distrik Bomela di Wamena (28/05/2014). Asrama pertama yang termewah ini merupakan impian masyarakat Distrik Bomela dari sejak
anak-anak yang berasal dari daerah Bomela mengenyam pendidikan di kota study wamena dan jayapura sejak tahun 1980-an. Upaya untuk membangun sebuah rumah layak huni bagi anak-anak sekolah itu pertama kali dilakukan oleh Pdt. Nebius Maling, S.Th, yang saat itu masih berada di bangku Sekolah Pendidikan Guru Agama Kristen Protestan (SPGAKP) di tahun 1986, yang saat itu hanya 1 orang. Pada tahun 1987-1988 jumlah anak-anak yang sekolah di wamena bertambah menjadi 7 orang. Sejak anak-anak sudah beranjak berpendidikan di Wamena itu, beliau sudah pernah mengirimkan sepucuk surat yang berisikan permohonan bantuan dana kepada pimpinan gereja melalui rapat Majelis jemaat. Meski begitu, rupanya orang tua di masa itu tidak sependapat dengan upaya beliau untuk membangun rumah layak huni di wamena. Upaya membangun rumah layak huni (honai) itu sendiri merupakan inisiatif pelajar saat itu di wamena, karena tidak semua anak tinggal di Asrama Gerrit Kuijt yang merupakan asrama milik Gereja Jemaat Reformasi Papua (GJRP). Sebagian anak-anak terlantar begitu saja baik dari segi fasilitas rumah, fasilitas pendidikan, maupun makan minum. Masa itu merupakan masa dimana setiap anak harus ekstra mencari nafkah hidup sendiri demi berjuang bertahan hidup. Tidak ada orang Bomela yang berpendidikan tinggi dan bekerja di wamena dan atau pun di Bomela. Masa dimana orang Bomela masih tergantung pada asuhan orang lain, baik dari segi pendidikan, pelayanan gereja, maupun kesejahteraan masyarakat. Masa ini berlangsung ± 25 tahun, terhitung tahun injil masuk di wilayah Bomela hingga masa transisi kedewasaan gereja. 
            Dari tahun ke tahun, jumlah anak-anak yang berpendidikan di Wamena tambah banyak, hampir mengimbangi daerah-daerah lain. Sehingga beberapa senior yang peduli terhadap kondisi tersebut membangun rumah layak huni (honai) bagi pelajar yang tinggal di luar asrama bertempat di potikelek (tanah gereja). Rumah tersebut menampung anak-anak dalam jumlah yang banyak, termasuk masyarakat yang berkunjung ke wamena karena sakit, dan atau berkepentingan lain bangun tidur disitu. Kondisi ini tidak berhenti cepat, dari masa penginjilan hingga masa transisi (masa dimana yang bekerja di Bomela itu tenaga-tenaga dari luar, misalnya dari Landikma, Pass Valley, dan lain ke masa kepemimpinan anak-anak pribumi). Meski demikian, semangat belajar bagi anak sekolah ini tidak terpadamkan. Tempat tinggal terbatas, fasilitas pendidikan tidak memadai, dan kebutuhan pokok lainnya yang harus ekstra waktu berusaha sendiri tidak menjadi penghalang dalam mengarungi dan mengenyam pendidikan di wamena.
 
               Dalam keadaan yang penuh keterbatasan, beberapa anak yang selesai pendidikan di wamena mereka melanjutkan di Jayapura. Jayapura merupakan pusat pendidikan baik yang sekolah tingkat menengah maupun pandidikan tinggi (PT). Hal yang sama harus dihadapi di kota Jayapura. Balik kiri dan kanan harus menghadapi orang-orang asing, orang-orang yang bukan berasal dari daerah yang sama. Kondisi ini merupakan dinamika tantangan pendidikan tanpa harus mengharapkan suatu keadaan yang instan. Upaya bekerja keras sudah menjadi darah daging bagi anak-anak sekolah yang berpendidikan jauh dari orang tua. Beradaban baru sudah tentu menanti setiap anak yang harus mengembara tanpa ada dukungan yang tetap, namun didorong oleh keinginan pribadi secara kuat untuk berpendidikan. Segala sesuatu menjadi hal baru, entah di dunia sekolah/kampus, lingkungan bermain, maupun lingkungan luas. Itulah sebabnya segala upaya dilakukan untuk membangun rumah layak huni tapi bakal tak wujud hingga memasuki dekade kedewasaan. Hal itu berdampak luas, dimana sebagian dari mereka harus gulung tikar dan balik kampung, sebagian menghampiri hadirat Tuhan (meninggal) dan sebagian selesai di pendidikan tinggi. Menurut data dari sumber buku “Sejarah Injil Masuk di Wilayah Bomela” karyanya Pdt. Nebius Maling, S.Th tertulis : 19 anak yang putus sekolah, 10 anak yang meninggal, 27 orang yang selesai pendidikan Tinggi (PT) bagian umum, 7 orang yang selesai di bidang kesehatan dan 9 orang yang selesai di bagian teologi (Data Tahun 2014).?  

B. Masa Emas, Generasi yang Sukses Tanpa Ada Rumah Layak Huni



              Pada awal tahun 2000-an, satu persatu anak-anak yang berjuang ditengah keterbatasan mulai selesai pendidikan dan terjun di dunia kerja. Berdasarkan data, 43 orang yang berhasil sukses setelah bertahan lama tanpa ada rumah layak huni (honai). Perjuangan yang panjang, membutuhkan pengorbanan dana, daya dan doa. Impian dan harapan masyarakat Bomela (saat itu belum jadi Distrik Bomela), tapi saat itu masih bagian dari Distrik Kurima Kabupaten Jayawijaya menjadi nyata. Terhitung ± 15 tahun tapi hasilnya sangat maksimal, ini semua dapat terjadi karena atas anugerah Tuhan semata-mata. Perjuangan tanpa batas waktu, penuh keterbatasan yang diimbangi dengan semangat belajar, bekerja keras tanpa mengenal lelah dan tantangan zaman, tentu dapat menginspirasi generasi ini untuk menuju ke ampang pembebasan dan kesuksesan.

 
Sumber : Data Pendidikan Tahun 2014


            Terkenal generasi yang penuh dengan semangat juang, walau ditengah tantangan dari dalam maupun dari luar. Dari angkatan ke angkatan, generasi ini dipandang tepat mengenyam pendidikan. Meski banyak yang gagal di medan pendidikan karena sakit hingga berujung meninggal maupun putus kuliah, putus kuliah karena beban biaya pendidikan yang tidak menunjang akibat ekonomi orang tua lemah, dan karena dampak perkembangan lingkungan yang tidak mendukung untuk bertahan melanjutkan pendidikan. Tapi ditengah gagalnya beberapa dari generasi itu, mereka justru mampu meningkatkan semangat juang yang ditandai dengan bekerja keras, belajar keras, dan mampu bersaing dengan pesaing-pesaing dari daerah lain. Sungguh menarik, penuh keterbatasan biaya, keterbatasan fasilitas, dan keterbatasan pengetahuan, tapi pada akhirnya kembali memberi harapan bagi masyarakat, gereja dan pemerintah bahwa mereka sukses dan bebas. Sukses dari pendidikan dan bebas dari kebodohan, penderitaan, serta bebas dari kekurangan.
               Layaknya disebut generasi emas, karena sukses tanpa tidur di rumah yang layak huni adalah suatu perjuangan yang keras. Walau ada beberapa orang yang tinggal di Asrama Gerrit Kuijt, Asrama Elisa, Asrama Ruth, Asrama YKPM dan Asrama Hanna, tapi itu hanya beberapa orang yang memenuhi kriteria dan merupakan perwakilan klasis yang diseleksi oleh gereja. Selain dari itu semua tinggal di kupuk potikelek, Tanah Pendidikan, Tanah Hitam, dan Doyo. Tempat-tempat ini adalah tempat dimana anak-anak Bomela tinggal dan mencari nafkah hidup serta biaya pendidikan. Aktifitas kerja kebun, menyamar menjadi tukang, menjadi pembantu rumah tangga orang, kebersihan lingkungan adalah kegiatan rutin anak-anak Bomela yang halal dikerjakan demi menunjang biaya hidup dan biaya pendidikan. Tidak luput dari kegiatan-kegiatan itu, tapi pada ujungnya mereka sukses menjadi sarjana di berbagai kampus swasta dan negeri di kabupaten wamena, kota dan kabupaten Jayapura serta beberapa pendidikan tinggi di Indonesia bagian tengah dan barat. Setelah selesai pendidikan, mereka pun terjun di dunia kerja. Diantaranya yang menjadi pegawai pertama adalah Bapak Kirenius Balyo merupakan kader bidang kesehatan oleh gereja, disusul oleh Bapak Manasye Balyo, Amd.Pd, Marinus Aluwa, S.PAK dan Ananias Maling, S.Pd. beberapa tahun kemudian muncullah beberapa orang lagi untuk menopang pelayanan di Distrik Bomela. 


              Seiring dengan dinamika pemerintahan yang terus berkembang maju, pada tanggal 11 Desember 2003 ketika terjadi pemekaran kabupaten berdasarkan UU RI No. 26 tentang pembentukan 14 kabupaten baru di ufuk timur Indonesia (Provinsi Papua) dan salah satunya adalah kabupaten Yahukimo. Maka tindaklanjut pemerintahan terbentuklah 51 Distrik dan salah satunya adalah Distrik Bomela. Dalam pemerintahan Bapak Manasye Balyo dilantik menjadi Kepala Distrik Bomela yang pertama dan Bapak Ananias Maling, S.Pd menjadi Kepala Sekolah SD YPK Bomela sejak tahun 2002. Kedua orang ini telah mencetuskan sejarah dalam bidang pemerintahan dan bidang pendidikan dari anak pribumi asal Distrik Bomela. Terobosan ini merupakan cikal bakal kebangkitan anak pribumi untuk memimpin daerahnya sendiri. Dengan demikian, berakhir pulang para tenaga-tenaga pengajar baik di bidang pendidikan umum maupun pelayanan gereja yang datang dari daerah-daerah lain wilayah pelayanan gereja GJRP. 
            Terhitung tahun 2003 adalah masa pemegang kekuasaan ditingkat Distrik Bomela ada di genggaman tangan anak-anak pribumi. Meski begitu, upaya untuk membangun rumah layak huni di kota study Wamena dan Jayapura tak bakal terwujud. Kucuran dana besar pun mulai berhampuran tanpa jejak di Distrik Bomela, kondisi ini teriring dengan penderitaan anak-anak pendidikan di beberapa kota study akibat tidak adanya tempat tinggal yang layak huni. Dengan keadaan itu beberapa anak yang selesai Sekolah Dasar lanjut sekolah menengah di Dekai Kabupaten Yahukimo. Pergantian kepala Distrik, Kepala Sekolah, dan Kepala Pustu terjadi beberapa kali tapi keterpihakan kebijakan terhadap pendidikan dengan jumlah dana yang cukup memadai tidak pernah terjadi. Tinggallah mimpi diatas mimpi menghantui masyarakat awam, intelektual dan masyarakat luas.?  

 C.    Ketika Kebijakan Menjadi Solusi Tepat
 

              Tahun 2013 adalah tahun yang penuh kebijakan. Melihat kondisi yang seperti diulaskan diatas dapat memicu adanya kebijakan baru oleh tim PNPM Mandiri dibawah komando pendamping Distrik Bomela (Bapak Richard Kambu, ST). Kebijakannya adalah melakukan pengalihan dana PNPM Mandiri ke bidang pendidikan pada tahap tahun 2012, yang mana biaya tersebut diperuntukan bagi pelajar dan mahasiswa/i yang berpendidikan di beberapa kota study. Pembagian biaya pun beragam sesuai dengan tingkatan dan jenjang pendidikan. Mulai dari Taman Kanak-Kanak, Sedolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Umum/Kejuruan dan Pendidikan Tinggi. Kebijakan ini dapat membantu meringankan biaya pendidikan anak-anak sekolah tapi tidak bakal menunjang biaya hidup seperti biaya kost rumah, lampu tempat tinggal dan biaya makan. Pada tahap tahun 2013 masuk dalam Rencana Anggaran Belanja (RAB) pembangunan asrama milik Distrik Bomela pertama di Wamena. Rencana pembangunan asrama ini pun disosialisasikan ditingkatan pengguna anggaran, diantaranya para kepala-kepala kampung di seluruh Distrik Bomela. Sehingga dapat disetujui untuk pembangunan asrama itu dilakukan sesuai dengan rencana kerja tim PNPM Mandiri tingkat Distrik. 


            Setelah para kepala kampung di 6 Desa, yakni Desa Kitikni, Desa Sumbat, Desa Bomela, Desa Kubiyalar, Desa Yalmebi dan Desa Balamdua yang ada di Distrik Bomela menyetujui adanya kebijakan bagi pendidikan dari program PNPM Mandiri – Respek guna pembangunan asrama di wamena. Maka tepat pada tanggal 10 februari 2014 memulai tahapan pembangunan asrama di wamena. Terhitung 40 hari (10 februari-30 maret 2014) adalah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pembangunan asrama termewah di wamena itu dari dana program PNPM Mandiri di seluruh Papua. Impian dan harapan masyarakat Distrik Bomela, lebih khusus pelajar dan mahasiswa asal distrik Bomela berbesar hati dan bereuforia hadirnya sang impian yang terbendam setelah beberapa tahun mengenyam pendidikan di kota dingin tersebut tanpa ada rumah layak huni. Asrama permanen, termewah, termegah dan pertama di Provinsi Papua ini dibangun dari sumber dana PNPM Mandiri – Respek Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2013. Asrama ini dibangun dan dilengkapi dengan fasilitas yang memadai guna menunjang proses belajar anak-anak yang berpendidikan di wamena, lebih khusus bagi mereka yang tidak tinggal di asrama Gerrit Kuijt dan Asrama Hanna yang merupakan asrama milik gereja. Pembangunan asrama ini tentu memberikan dampak positif bagi pelajar dan mahasiswa yang berpendidikan di kota study wamena ini. Asrama ini tentu memberikan kontribusi besar dalam menunjang proses belajar. Fasilitas yang memadai tentu memberikan kenyamanan dalam kelangsungan belajar bagi pelajar dan mahasiswa. Terlepas dari pelajar dan mahasiswa juga dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat yang sakit, dan atau berurusan penting ke wamena pasti ikut merasakan kenyamanan. Karena sudah tidak berpikir lagi tentang tempat tinggal, tapi berpikir ekstra tentang bagaimana mencari nafkah dan biaya hidup yang lainnya.
             Tepat pada tanggal 28 Mei 2014 adalah moment penting bagi pelajar, mahasiswa dan masyarakat asal Distrik Bomela yang berdomisili di kabupaten Jayawijaya ini. Karena tepat pada hari itu, peresmian asrama termegah ini dilakukan. Kegiatan peresmian dilakukan sebagai bukti rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas anugerah-Nya sehingga setelah beberapa tahun menjadi pokok pergumulan, akhirnya di tahun 2014 menjadi tahun emas atas pergumulan tersebut. Pemerintah Provinsi Papua melalui Badan Pemberdayaan Masyarakat Kampung (BPMK) Provinsi Papua, BPMK Kabupaten Yahukimo, Perwakilan Pimpinan Gereja Jemaat Reformasi Papua (GJRP), Pemerintah Distrik Bomela, Perwakilan Masyarakat 6 Desa, Pelajar, Mahasiswa asal Dsitrik Bomela serta simpatisan menjadi saksi hidup pelaksanaan peresmian asrama termegah ini. Setiap masyarakat Bomela bangga memiliki asrama bagi pelajar dan mahasiswa sebagai tempat untuk bersemayam dan berpendidikan di kota dingin tersebut.
               Mewujudkan sebuah impian menjadi sebuah kenyataan adalah bukan segampang membolak balik telapak tangan. Melainkan membutuhkan proses yang panjang. Proses yang panjang itu harus dilengkapi dengan pemikir-pemikir yang berkompeten. Proses merupakan sebuah langkah yang berawal dari sebuah pemikiran. Berpikir kritis demi kepentingan umum dan demi masa depan banyak orang, tentu membutuhkan sebuah konsep yang kreatif. Konsep yang kreatif bermula dari sebuah gagasan yang berarti dan berbobot. Tidak hanya berakhir pada sebuah konsep yang kreatif tapi pada hakekatnya berlanjut pada sebuah tindakan yang berinovasi. Tindakan yang berinovasi juga disebut sebagai langkah jitu mewujudkan sebuah Impian dan harapan banyak orang. Berkarya dengan 3 (tiga) hal mendasar ini, merupakan langkah yang tepat dalam menyukseskan sebuah kegiatan. Tim PNPM Mandiri yang dikomandoi oleh pendamping Distrik Bomela (Bapak Richard Kambu, ST) adalah selayaknya disebut sebagai tim Revolusi.  Revolusi merupakan sebuah kata yang umum bisa dipakai dalam konteks apa saja. Revolusi yang dimaksud dalam konteks ini adalah perubahan pola pikir masyarakat luas asal Distrik Bomela. Setelah ± 8 tahun berjalan, konsep untuk melakukan sebuah perubahan (kebijakan) kebiasaan tak pernah ada. Dalam ulasan sebelumnya dapat dijelaskan terkait dengan pengambilan kebijakan, demi mewujudkan harapan masyarakat secara umum harus ada pemikir-pemikir yang cerdas dalam kebijakannya pro rakyat. Dan kebijakan tim PNPM Mandiri menurut hemat penulis adalah sudah tepat disebut tim ‘revolusi’. Tidak mungkin ada perubahan apabila pemimpin-pemimpin tidak berpikir untuk melakukan perubahan. Kondisi dangkal perubahan berjalan ± 14 tahun dari sejak anak-anak pribumi banyak yang sudah selesai dan mempengaruhi masyarakat untuk berpikir tentang kepentingan umum. Oleh sebab itu, kebijakan ini merupakan kebijakan pro rakyat dan merupakan solusi tepat mewujudkan harapan masyarakat Distrik Bomela.?  

D.    Tim PNPM Mandiri Distrik Bomela 4 Tahun Pro Pendidikan
 


             Setelah berhasil membangun asrama termegah di wamena, tim PNPM Mandiri tidak berhenti sampai disitu. Kebijakan penggunaan anggaran selama empat tahun pro pendidikan dari tahun anggaran 2011, 2012, 2013, dan 2014 berlanjut hingga rencana membangun asrama bagi pelajar dan mahasiswa di kota studi Jayapura. Rancangan pun termasuk agenda kerja tim PNPM Mandiri untuk tahun anggaran 2014. Meskipun sudah termasuk rencana prioritas dari dana anggaran 2014 untuk membangun asrama di Jayapura tapi gagal direalisasikan programnya sesuai rencana walupun dananya sudah di terrealisasi. Gagalnya pembangunan asrama tidak sesuai rencana terjadi karena terdapat pro dan kontra terhadap rencana tersebut oleh pengguna anggaran dan pengguna asrama itu sendiri (terdengar aneh tapi nyata). Sehingga anggaran tersebut dilakukan pembelian rumah instan yang selanjutnya disebut asrama pelajar dan mahasiswa/i asal Distrik Bomela. Asrama tersebut merupakan milik pelajar dan mahasiswa/i serta masyarakat asal Distrik Bomela yang berdomisili di kota dan kabupaten Jayapura. Secara administrasi lengkap dan penghuni pun sudah menempati asrama yang berlantai dua ini tapi belum melakukan peresmian selayaknya.   

Kebijakan pro pendidikan berturut dilakukan karena pendidikan merupakan landasan kemajuan suatu daerah. Menyediakan sumber daya manusia yang memadai, berkompeten dan berdaya saing tentu memberikan kontribusi besar dalam memajukan daerah. Oleh sebabnya kebijakan seperti ini haru di syukuri tanpa harus terjadi pro dan kontra. Kebijakan yang merupakan solusi bagi kepentingan umum adalah hal yang produktif dan konstruktif. Peluang untuk melakukan kebijakan demi perubahan itu datang sekali, apabila peluang tersebut tidak ditangkap secara baik, maka tidak akan terulang lagi. Realisasi anggaran baik PNPM Mandiri maupun respek sudah sangat transparan dalam penggunaan anggaran, musti seluruh lapisan masyarakat yang ada di Distrik Bomela harus mendukung akan kegiatan-kegiatan tersebut. Hendak memasuki tahun 1 (satu) tahun berjalan, kondisi biasa-biasa terus menghantui para pelajar dan mahasiswa asal Distik Bomela. Sangat jauh berbeda dengan situasi sebelum ada asrama di wamena dan Jayapura. Apakah keadaan ini terbawa dengan arus perkembangan Ilmu Pengetahun dan Teknologi (IPTEK) sehingga semua pada terjerumus dalam hal ini? Mungkin ‘tidak’ dan mungkin ‘ya’. 

 Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi, yang ditandai dengan kemajuan segala aspek menjadi canggih dan mudah diakses informasi. Maka tentu berdampak positif dan berdampak negatif terhadap dinamika pengembangan kepribadian itu sendiri. Ini merupakan sebuah beradaban baru dimana zaman ketika anak-anak berusaha bekerja dan belajar, dan zaman dimana anak-anak lebih banyak menikmati segala sesuatu yang instan. Upaya menafkahi kebutuhan sehari-hari pun kini menjadi hal semudah.
  
         Pada prinsipnya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan masuknya Indonesia sebagai salah satu negara dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN Economic Community (AEC) yang telah bergulir mulai akhir tahun 2015 lalu tentu memberikan tantangan baru untuk harus proaktif dalam belajar. MEA merupakan realisasi pasar bebas di Asia Tenggara yang sebelumnya telah disebut dalam Framework Agreement on Enhancing ASEAN Economic Cooperation pada tahun 1992. MEA sebenarnya adalah persaingan antar negara tapi berdampak aktif pada pribadi yang siap menempuh dalam persaingan tersebut. Oleh sebabnya, tidak bisa memaksakan diri dengan kebiasaan menggunakan segala sesuatu yang instan.

Pelajar dan mahasiswa saat ini dituntut oleh lingkungan dan perkembangan untuk harus proaktif dalam belajar. Kondisi segalanya menjadi instan ini sangat jauh berbeda dengan situasi ketika beberapa generasi berada. Pastikan bahwa generasi ini adalah generasi yang mampu bersaing dengan orang-orang yang berkompeten. Upaya dan harapan pelajar dan mahasiswa beberapa tahun yang lalu untuk harus ada rumah di Jayapura pun sudah terwujud. Maka itu setiap orang harus bersaing mewujudkan impiannya masing-masing. Generasi sebelumnya akan menganggap bahwa generasi sekarang adalah generasi instans, dan generasi sekarang menganggap bahwa generasi sebelumnya adalah generasi kerja tanpa istirahat. Tapi pertanyaannya adalah, siapakah yang lebih sukses? Situasi saat ini merujuk penulis agar menoleh ke belakang untuk melihat dan berpikir, dan mengarah ke depan untuk kreatif dalam konsep dan bertindak seiring dengan perkembangan.

Upaya pro pendidikan oleh tim PNPM Mandiri sudah berakhir di 4 (empat) yang lalu. Kini berbicara pendidikan itu ibarat air diatas daun talas, sebentar ada diatas tapi dalam sekecap akan ada di tanah. Mendengar aspirasi tapi membiarkan diri lewat tanpa jejak. Moment sebaik empat tahun tak akan terulang kembali, kini pengguna anggaran sudah kembali ke kepala kampung. Hal itu sejalan dengan program dana desa oleh Kementerian Pedesaan, Transmigrasi dan Agraria, yang dicanangkan akan mulai berlaku pada bulan maret 2016. Sungguh miris, ditengah penuh tantangan akibat pro dan kontra, tapi karena kepentingan umum, sehingga kebijakan pro pendidikan menjadi prioritas. 

      Komitmen masyarakat dan pelaku anggaran dalam menyetujui Kebijakan pro pendidikan yang dilakukan oleh tim PNPM Mandiri – Respek dengan harapan untuk mewujudkan beberapa tujuan berikut :  
1.      Para pelajar dan mahasiswa menempati    rumah layak huni (asrama) yang tetap.
2.      Mendukung upaya orang tua untuk menyekolahkan anak di wamena dan jayapura sebagai pusat pendidikan.
3.      Bentuk kontribusi penyediaan sumber daya manusia yang berkompeten dan berdaya saing.
4.      Komitmen menyediakan Sumber Daya Manusia yang mampu menjawab tantangan perkembangan zaman terhadap kemajuan Distrik Bomela.
5.      Wujud nyata kepedulian terhadap pendidikan sebagai pilar utama dalam rangka membangun kerangka kemajuan daerah Distrik Bomela.
 
Terbangunnya asrama yang termewah dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) oleh tim PNPM Mandiri – Respek ini, maka tentu beban moril harus ada di bundak setiap anak – anak asal Distrik Bomela untuk berusaha memberi yang terbaik terhadap besar hati (kerelahan) masyarakat 6 (enam) kampung. Memberi yang dimaksud disini adalah bukan memberi balasan berupa barang benda. Melainkan belajar secara efektif, efisien, dan inovatif dalam rangka mewujudkan harapan masyarakat.
Efektif dalam mengikuti setiap proses belajar, baik di dunia sekolah atau kampus maupun kegiatan – kegiatan ekstrakurikuler yang menopang pengembangan kepribadian, dengan mengikuti kegiatan – kegiatan diluar jam sekolah atau kuliah itu tentu memberikan dampak yang sangat signifikan. Karena hal itu tentu erat kaitannya dengan pembentukan karakter terpelajar, mental kepemimpinan yang hakiki, dan proaktif dalam menyimak setiap detik perkembangan yang selalu saja ada, tanpa mengenal batasan kemajuan.
Efisien dalam manajemen waktu secara baik, buat target pendidikan di setiap tingkatan, lakukan rancangan belajar efisien dari kombinasi setiap kegiatan. Hal ini merupakan suatu rangkain kebiasaan mendasar yang harus terbangun. Beberapa tahun belakangan banyak sekali kejadian-kejadian yang bisa dijadikan sebagai acuan dalam membuat sebuah target. Setiap anak harus mempunyai prinsip yang konstruktif. Masa sekarang setiap anak harus jelih dalam mengatur waktu agar tidak terjerumus dengan dinamika lingkungan. Pengaruh lingkungan 75% sangat berpotensi mempengaruhi pembentukan karakter setiap anak.
Inovatif dalam proses belajar, merubah kebiasaan – kebiasaan belajar yang tidak mengubah pola pikir. Belajar untuk melakukan hal – hal baru, dengan membiasakan diri dengan melakukan hal – hal baru akan berdampak luas dalam mengubah pandangan untuk jelih dampak positif dan negatif. Kebiasaan melakukan hal – hal baru saat sekolah atau kuliah akan terbawa saat bekerja di lapangan. Andaikan saat ini kebiasaan biasa – biasa dapat ditanamkan, maka hal itu juga yang akan terbawa di dunia kerja. Melakukan hal – hal baru dalam proses belajar adalah merupakan sebuah tindakan inisiatif dari dalam diri. Kadangkala ada pemandangan yang tidak responsif terhadap pengaruh eksternal dalam melakukan aktivitas belajar. Berada pada dunia yang penuh dengan kemajuan teknologi informasi ini, merupakan sebuah tantangan bagi setiap anak yang berada di bangku sekolah dan kuliah. Karena persaingan kualitas menentukan tingkatan kebiasaan dalam belajar. Setiap orang akan tampil genius dan cerdas apabila proses belajarnya sinkron dengan situasi dalam studi maupun lingkungan bermain.
Sejalan dengan perkembangan daerah, yang ditandai dengan adanya persaingan perkembangan setiap kabupaten, baik di Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Pegunungan Bintang maupun kabupaten – kabupaten lain yang dimana orang Bomela bekerja. Maka harapan tentu persiapannya dalam Sumber Daya Manusia harus yang produktif. Kondisi nyata di lapangan menunjukan bahwa 3 (tiga) hal tersebut diatas, yakni Efektif, Efisien dan Inovatif dalam proses belajar, merupakan sebuah kombinasi tindakan yang paling urgen. Dalam melakukan proses belajar tidak tergantung terhadap siapa pun. Keinginan sekolah harus lahir dari dalam diri tanpa ada unsur memaksakan. Karena melakukan hal – hal baru dalam proses belajar tentu merupakan sebuah tindakan oleh para pelajar itu sendiri.
Minimnya sumber daya manusia yang produktif dalam bekerja, akan berdampak buruk dalam pelayanan masyarakat luas. Berkaca pada kondisi nyata di lapangan, banyak masyarakat yang bertolak belakang dengan pelayanan publik akhir – akhir ini di Kabupaten Yahukimo. Dinamika itu merupakan sebuah tantangan yang positif, dan sebuah kredit poin yang berbobot bagi para pelajar dan mahasiswa yang aktif belajar. Kondisi ini bukan merupakan kondisi yang harus dijadikan sebagai buah bibir, atau pun bahan berbincangan hangat tanpa ada reaksi konstruktif. Melainkan kondisi yang harus dicermati secara baik dan memberi respon secara proaktif juga. Proaktif mahasiswa saat ini sangat membutuhkan dalam sejalan dengan tuntutan perkembangan daerah. Sinkronisasikan proses belajar dengan setiap situasi dan perkembangan daerah akan sangat efektif, apabila telah selesai pendidikan. Karena akan mewujudkan harapan masyarakat Distrik Bomela. Dimana dengan kehadiran orang – orang yang terpelajar disana, maka tentu siap menjawab tantangan kemajuan daerah. Sehingga para pelajar dan mahasiswa asal Distrik Bomela harus proaktif dalam melakukan aktivitas proses belajar di sekolah atau kampus, dan dituntut oleh lingkungan perkembangan agar setiap orang harus masuk dalam kategori orang diperhitungkan di dunia kampus, lingkungan gereja, pemerintah dan masyarakat. Dukungan masyarakat 6 (enam) kampung untuk menjawab aspirasi mahasiswa dan pelajar untuk membangun asrama telah terwujud dengan dibangunnya 2 (dua) asrama mewah. Selanjutnya masyarakat menantikan reaksi dan tindakan para pelajar dan mahasiswa mewujudkan harapan masyarakat Distrik Bomela.
Ucapan terima kasih kami dari hati yang paling dalam, sudah selayaknya kami sampaikan kepada tim PNPM Mandiri Distrik Bomela dan masyarakat 6 (enam) kampung Distrik Bomela. Karena bagaimana pun realisasi program yang ditandai dengan pembangunan asrama termegah di wamena dan Jayapura adalah merupakan bentuk bukti atas kebijakan pro pendidikan dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2011, 2012, 2013 dan 2014. Kiranya Tuhan Yesus yang punya sumber berkat dan hikmat memberkati setiap detik kerja para tim PNPM Mandiri-Respek sekalian.?


Penulis : Panuel Maling, ST
Mahasiswa Asal Distrik Bomela.