A. UPAYA MEMBANGUN ASRAMA MERUPAKAN RENCANA GENERASI ERA 1980-an
“Predikat ‘terbaik, termewah dan pertama’di Provinsi Papua” demikian
pujian singkat Koordinator PNPM Mandiri – Respek Provinsi Papua di sela-sela
peresmian asrama pelajar dan mahasiswa Distrik Bomela di Wamena (28/05/2014).
Asrama pertama yang termewah ini merupakan impian masyarakat Distrik Bomela
dari sejak
anak-anak yang berasal
dari daerah Bomela mengenyam pendidikan di kota study wamena dan jayapura sejak
tahun 1980-an. Upaya untuk membangun sebuah rumah layak huni bagi anak-anak
sekolah itu pertama kali dilakukan oleh Pdt. Nebius Maling, S.Th, yang saat itu
masih berada di bangku Sekolah Pendidikan Guru Agama Kristen Protestan (SPGAKP)
di tahun 1986, yang saat itu hanya 1 orang. Pada tahun 1987-1988 jumlah anak-anak yang sekolah di
wamena bertambah menjadi 7 orang. Sejak anak-anak sudah beranjak berpendidikan
di Wamena itu, beliau sudah pernah mengirimkan sepucuk surat yang berisikan
permohonan bantuan dana kepada pimpinan gereja melalui rapat Majelis jemaat.
Meski begitu, rupanya orang tua di masa itu tidak sependapat dengan upaya
beliau untuk membangun rumah layak huni di wamena. Upaya membangun rumah layak
huni (honai) itu sendiri merupakan inisiatif pelajar saat itu di wamena, karena
tidak semua anak tinggal di Asrama Gerrit Kuijt yang merupakan asrama milik
Gereja Jemaat Reformasi Papua (GJRP). Sebagian anak-anak terlantar begitu saja
baik dari segi fasilitas rumah, fasilitas pendidikan, maupun makan minum. Masa
itu merupakan masa dimana setiap anak harus ekstra mencari nafkah hidup sendiri
demi berjuang bertahan hidup. Tidak ada orang Bomela yang berpendidikan tinggi
dan bekerja di wamena dan atau pun di Bomela. Masa dimana orang Bomela masih
tergantung pada asuhan orang lain, baik dari segi pendidikan, pelayanan gereja,
maupun kesejahteraan masyarakat. Masa ini berlangsung ± 25 tahun, terhitung tahun injil masuk di
wilayah Bomela hingga masa transisi kedewasaan gereja.

Dari tahun ke tahun, jumlah anak-anak yang
berpendidikan di Wamena tambah banyak, hampir mengimbangi daerah-daerah lain.
Sehingga beberapa senior yang peduli terhadap kondisi tersebut membangun rumah
layak huni (honai) bagi pelajar yang tinggal di luar asrama bertempat di
potikelek (tanah gereja). Rumah tersebut menampung anak-anak dalam jumlah yang
banyak, termasuk masyarakat yang berkunjung ke wamena karena sakit, dan atau
berkepentingan lain bangun tidur disitu. Kondisi ini tidak berhenti cepat, dari
masa penginjilan hingga masa transisi (masa dimana yang bekerja di Bomela itu
tenaga-tenaga dari luar, misalnya dari Landikma, Pass Valley, dan lain ke masa
kepemimpinan anak-anak pribumi). Meski demikian, semangat belajar bagi anak
sekolah ini tidak terpadamkan. Tempat tinggal terbatas, fasilitas pendidikan
tidak memadai, dan kebutuhan pokok lainnya yang harus ekstra waktu berusaha
sendiri tidak menjadi penghalang dalam mengarungi dan mengenyam pendidikan di
wamena.
Dalam keadaan yang penuh keterbatasan,
beberapa anak yang selesai pendidikan di wamena mereka melanjutkan di Jayapura.
Jayapura merupakan pusat pendidikan baik yang sekolah tingkat menengah maupun
pandidikan tinggi (PT). Hal yang sama harus dihadapi di kota Jayapura. Balik
kiri dan kanan harus menghadapi orang-orang asing, orang-orang yang bukan
berasal dari daerah yang sama. Kondisi ini merupakan dinamika tantangan
pendidikan tanpa harus mengharapkan suatu keadaan yang instan. Upaya bekerja
keras sudah menjadi darah daging bagi anak-anak sekolah yang berpendidikan jauh
dari orang tua. Beradaban baru sudah tentu menanti setiap anak yang harus
mengembara tanpa ada dukungan yang tetap, namun didorong oleh keinginan pribadi
secara kuat untuk berpendidikan. Segala sesuatu menjadi hal baru, entah di
dunia sekolah/kampus, lingkungan bermain, maupun lingkungan luas. Itulah
sebabnya segala upaya dilakukan untuk membangun rumah layak huni tapi bakal tak
wujud hingga memasuki dekade kedewasaan. Hal itu berdampak luas, dimana
sebagian dari mereka harus gulung tikar dan balik kampung, sebagian menghampiri
hadirat Tuhan (meninggal) dan sebagian selesai di pendidikan tinggi. Menurut
data dari sumber buku “Sejarah Injil Masuk di Wilayah Bomela” karyanya Pdt.
Nebius Maling, S.Th tertulis : 19 anak yang putus sekolah, 10 anak yang
meninggal, 27 orang yang selesai pendidikan Tinggi (PT) bagian umum, 7 orang
yang selesai di bidang kesehatan dan 9 orang yang selesai di bagian teologi (Data Tahun 2014).?
B. Masa Emas, Generasi yang Sukses Tanpa Ada
Rumah Layak Huni
Pada awal tahun 2000-an, satu persatu
anak-anak yang berjuang ditengah keterbatasan mulai selesai pendidikan dan terjun
di dunia kerja. Berdasarkan data, 43 orang yang berhasil sukses setelah
bertahan lama tanpa ada rumah layak huni (honai). Perjuangan yang panjang,
membutuhkan pengorbanan dana, daya dan doa. Impian dan harapan masyarakat
Bomela (saat itu belum jadi Distrik Bomela), tapi saat itu masih bagian dari
Distrik Kurima Kabupaten Jayawijaya menjadi nyata. Terhitung ± 15 tahun tapi hasilnya sangat maksimal,
ini semua dapat terjadi karena atas anugerah Tuhan semata-mata. Perjuangan
tanpa batas waktu, penuh keterbatasan yang diimbangi dengan semangat belajar,
bekerja keras tanpa mengenal lelah dan tantangan zaman, tentu dapat
menginspirasi generasi ini untuk menuju ke ampang pembebasan dan kesuksesan.
Sumber : Data Pendidikan Tahun 2014
Terkenal
generasi yang penuh dengan semangat juang, walau ditengah tantangan dari dalam
maupun dari luar. Dari angkatan ke angkatan, generasi ini dipandang tepat
mengenyam pendidikan. Meski banyak yang gagal di medan pendidikan karena sakit
hingga berujung meninggal maupun putus kuliah, putus kuliah karena beban biaya
pendidikan yang tidak menunjang akibat ekonomi orang tua lemah, dan karena
dampak perkembangan lingkungan yang tidak mendukung untuk bertahan melanjutkan
pendidikan. Tapi ditengah gagalnya beberapa dari generasi itu, mereka justru
mampu meningkatkan semangat juang yang ditandai dengan bekerja keras, belajar
keras, dan mampu bersaing dengan pesaing-pesaing dari daerah lain. Sungguh
menarik, penuh keterbatasan biaya, keterbatasan fasilitas, dan keterbatasan
pengetahuan, tapi pada akhirnya kembali memberi harapan bagi masyarakat, gereja
dan pemerintah bahwa mereka sukses dan bebas. Sukses dari pendidikan dan bebas
dari kebodohan, penderitaan, serta bebas dari kekurangan.
Layaknya
disebut generasi emas, karena sukses tanpa tidur di rumah yang layak huni
adalah suatu perjuangan yang keras. Walau ada beberapa orang yang tinggal di
Asrama Gerrit Kuijt, Asrama Elisa, Asrama Ruth, Asrama YKPM dan Asrama Hanna,
tapi itu hanya beberapa orang yang memenuhi kriteria dan merupakan perwakilan
klasis yang diseleksi oleh gereja. Selain dari itu semua tinggal di kupuk
potikelek, Tanah Pendidikan, Tanah Hitam, dan Doyo. Tempat-tempat ini adalah
tempat dimana anak-anak Bomela tinggal dan mencari nafkah hidup serta biaya
pendidikan. Aktifitas kerja kebun, menyamar menjadi tukang, menjadi pembantu
rumah tangga orang, kebersihan lingkungan adalah kegiatan rutin anak-anak
Bomela yang halal dikerjakan demi menunjang biaya hidup dan biaya pendidikan.
Tidak luput dari kegiatan-kegiatan itu, tapi pada ujungnya mereka sukses menjadi
sarjana di berbagai kampus swasta dan negeri di kabupaten wamena, kota dan
kabupaten Jayapura serta beberapa pendidikan tinggi di Indonesia bagian tengah
dan barat. Setelah selesai pendidikan, mereka pun terjun di dunia kerja.
Diantaranya yang menjadi pegawai pertama adalah Bapak Kirenius Balyo merupakan
kader bidang kesehatan oleh gereja, disusul oleh Bapak Manasye Balyo, Amd.Pd,
Marinus Aluwa, S.PAK dan Ananias Maling, S.Pd. beberapa tahun kemudian
muncullah beberapa orang lagi untuk menopang pelayanan di Distrik Bomela.

Seiring
dengan dinamika pemerintahan yang terus berkembang maju, pada tanggal 11
Desember 2003 ketika terjadi pemekaran kabupaten berdasarkan UU RI No. 26
tentang pembentukan 14 kabupaten baru di ufuk timur Indonesia (Provinsi Papua)
dan salah satunya adalah kabupaten Yahukimo. Maka tindaklanjut pemerintahan
terbentuklah 51 Distrik dan salah satunya adalah Distrik Bomela. Dalam
pemerintahan Bapak Manasye Balyo dilantik menjadi Kepala Distrik Bomela yang
pertama dan Bapak Ananias Maling, S.Pd menjadi Kepala Sekolah SD YPK Bomela
sejak tahun 2002. Kedua orang ini telah mencetuskan sejarah dalam bidang
pemerintahan dan bidang pendidikan dari anak pribumi asal Distrik Bomela. Terobosan
ini merupakan cikal bakal kebangkitan anak pribumi untuk memimpin daerahnya
sendiri. Dengan demikian, berakhir pulang para tenaga-tenaga pengajar baik di
bidang pendidikan umum maupun pelayanan gereja yang datang dari daerah-daerah
lain wilayah pelayanan gereja GJRP.
Terhitung
tahun 2003 adalah masa pemegang kekuasaan ditingkat Distrik Bomela ada di
genggaman tangan anak-anak pribumi. Meski begitu, upaya untuk membangun rumah
layak huni di kota study Wamena dan Jayapura tak bakal terwujud. Kucuran dana
besar pun mulai berhampuran tanpa jejak di Distrik Bomela, kondisi ini teriring
dengan penderitaan anak-anak pendidikan di beberapa kota study akibat tidak
adanya tempat tinggal yang layak huni. Dengan keadaan itu beberapa anak yang
selesai Sekolah Dasar lanjut sekolah menengah di Dekai Kabupaten Yahukimo. Pergantian
kepala Distrik, Kepala Sekolah, dan Kepala Pustu terjadi beberapa kali tapi
keterpihakan kebijakan terhadap pendidikan dengan jumlah dana yang cukup
memadai tidak pernah terjadi. Tinggallah mimpi diatas mimpi menghantui
masyarakat awam, intelektual dan masyarakat luas.?
C.
Ketika Kebijakan Menjadi Solusi Tepat

Tahun
2013 adalah tahun yang penuh kebijakan. Melihat kondisi yang seperti diulaskan
diatas dapat memicu adanya kebijakan baru oleh tim PNPM Mandiri dibawah komando
pendamping Distrik Bomela (Bapak Richard Kambu, ST). Kebijakannya adalah
melakukan pengalihan dana PNPM Mandiri ke bidang pendidikan pada tahap tahun
2012, yang mana biaya tersebut diperuntukan bagi pelajar dan mahasiswa/i yang
berpendidikan di beberapa kota study. Pembagian biaya pun beragam sesuai dengan
tingkatan dan jenjang pendidikan. Mulai dari Taman Kanak-Kanak, Sedolah Dasar,
Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Umum/Kejuruan dan Pendidikan Tinggi.
Kebijakan ini dapat membantu meringankan biaya pendidikan anak-anak sekolah
tapi tidak bakal menunjang biaya hidup seperti biaya kost rumah, lampu tempat
tinggal dan biaya makan. Pada tahap tahun 2013 masuk dalam Rencana Anggaran
Belanja (RAB) pembangunan asrama milik Distrik Bomela pertama di Wamena.
Rencana pembangunan asrama ini pun disosialisasikan ditingkatan pengguna
anggaran, diantaranya para kepala-kepala kampung di seluruh Distrik Bomela.
Sehingga dapat disetujui untuk pembangunan asrama itu dilakukan sesuai dengan
rencana kerja tim PNPM Mandiri tingkat Distrik.

Setelah
para kepala kampung di 6 Desa, yakni Desa Kitikni, Desa Sumbat, Desa Bomela,
Desa Kubiyalar, Desa Yalmebi dan Desa Balamdua yang ada di Distrik Bomela
menyetujui adanya kebijakan bagi pendidikan dari program PNPM Mandiri – Respek guna
pembangunan asrama di wamena. Maka tepat pada tanggal 10 februari 2014 memulai
tahapan pembangunan asrama di wamena. Terhitung 40 hari (10 februari-30 maret
2014) adalah waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pembangunan asrama
termewah di wamena itu dari dana program PNPM Mandiri di seluruh Papua. Impian
dan harapan masyarakat Distrik Bomela, lebih khusus pelajar dan mahasiswa asal
distrik Bomela berbesar hati dan bereuforia hadirnya sang impian yang terbendam
setelah beberapa tahun mengenyam pendidikan di kota dingin tersebut tanpa ada
rumah layak huni. Asrama permanen, termewah, termegah dan pertama di Provinsi
Papua ini dibangun dari sumber dana PNPM Mandiri – Respek Anggaran Pendapatan
Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2013. Asrama ini dibangun dan dilengkapi
dengan fasilitas yang memadai guna menunjang proses belajar anak-anak yang
berpendidikan di wamena, lebih khusus bagi mereka yang tidak tinggal di asrama
Gerrit Kuijt dan Asrama Hanna yang merupakan asrama milik gereja. Pembangunan
asrama ini tentu memberikan dampak positif bagi pelajar dan mahasiswa yang
berpendidikan di kota study wamena ini. Asrama ini tentu memberikan kontribusi
besar dalam menunjang proses belajar. Fasilitas yang memadai tentu memberikan
kenyamanan dalam kelangsungan belajar bagi pelajar dan mahasiswa. Terlepas dari
pelajar dan mahasiswa juga dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat yang
sakit, dan atau berurusan penting ke wamena pasti ikut merasakan kenyamanan.
Karena sudah tidak berpikir lagi tentang tempat tinggal, tapi berpikir ekstra
tentang bagaimana mencari nafkah dan biaya hidup yang lainnya.

Tepat
pada tanggal 28 Mei 2014 adalah moment penting bagi pelajar, mahasiswa dan
masyarakat asal Distrik Bomela yang berdomisili di kabupaten Jayawijaya ini.
Karena tepat pada hari itu, peresmian asrama termegah ini dilakukan. Kegiatan
peresmian dilakukan sebagai bukti rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa,
karena atas anugerah-Nya sehingga setelah beberapa tahun menjadi pokok
pergumulan, akhirnya di tahun 2014 menjadi tahun emas atas pergumulan tersebut.
Pemerintah Provinsi Papua melalui Badan Pemberdayaan Masyarakat Kampung (BPMK)
Provinsi Papua, BPMK Kabupaten Yahukimo, Perwakilan Pimpinan Gereja Jemaat
Reformasi Papua (GJRP), Pemerintah Distrik Bomela, Perwakilan Masyarakat 6
Desa, Pelajar, Mahasiswa asal Dsitrik Bomela serta simpatisan menjadi saksi
hidup pelaksanaan peresmian asrama termegah ini. Setiap masyarakat Bomela
bangga memiliki asrama bagi pelajar dan mahasiswa sebagai tempat untuk
bersemayam dan berpendidikan di kota dingin tersebut.
Mewujudkan
sebuah impian menjadi sebuah kenyataan adalah bukan segampang membolak balik
telapak tangan. Melainkan membutuhkan proses yang panjang. Proses yang panjang
itu harus dilengkapi dengan pemikir-pemikir yang berkompeten. Proses merupakan
sebuah langkah yang berawal dari sebuah pemikiran. Berpikir kritis demi
kepentingan umum dan demi masa depan banyak orang, tentu membutuhkan sebuah
konsep yang kreatif. Konsep yang kreatif bermula dari sebuah gagasan yang
berarti dan berbobot. Tidak hanya berakhir pada sebuah konsep yang kreatif tapi
pada hakekatnya berlanjut pada sebuah tindakan yang berinovasi. Tindakan yang
berinovasi juga disebut sebagai langkah jitu mewujudkan sebuah Impian dan
harapan banyak orang. Berkarya dengan 3 (tiga) hal mendasar ini, merupakan
langkah yang tepat dalam menyukseskan sebuah kegiatan. Tim PNPM Mandiri yang
dikomandoi oleh pendamping Distrik Bomela (Bapak Richard Kambu, ST) adalah
selayaknya disebut sebagai tim Revolusi.
Revolusi merupakan sebuah kata yang umum bisa dipakai dalam konteks apa
saja. Revolusi yang dimaksud dalam konteks ini adalah perubahan pola pikir
masyarakat luas asal Distrik Bomela. Setelah ± 8 tahun berjalan, konsep untuk melakukan
sebuah perubahan (kebijakan) kebiasaan tak pernah ada. Dalam ulasan sebelumnya
dapat dijelaskan terkait dengan pengambilan kebijakan, demi mewujudkan harapan
masyarakat secara umum harus ada pemikir-pemikir yang cerdas dalam kebijakannya
pro rakyat. Dan kebijakan tim PNPM Mandiri menurut hemat penulis adalah sudah
tepat disebut tim ‘revolusi’. Tidak mungkin ada perubahan apabila
pemimpin-pemimpin tidak berpikir untuk melakukan perubahan. Kondisi dangkal
perubahan berjalan ±
14 tahun dari sejak anak-anak pribumi banyak yang sudah selesai dan mempengaruhi
masyarakat untuk berpikir tentang kepentingan umum. Oleh sebab itu, kebijakan
ini merupakan kebijakan pro rakyat dan merupakan solusi tepat mewujudkan
harapan masyarakat Distrik Bomela.?
D.
Tim PNPM Mandiri Distrik Bomela 4 Tahun Pro
Pendidikan

Setelah
berhasil membangun asrama termegah di wamena, tim PNPM Mandiri tidak berhenti
sampai disitu. Kebijakan penggunaan anggaran selama empat tahun pro pendidikan
dari tahun anggaran 2011, 2012, 2013, dan 2014 berlanjut hingga rencana
membangun asrama bagi pelajar dan mahasiswa di kota studi Jayapura. Rancangan
pun termasuk agenda kerja tim PNPM Mandiri untuk tahun anggaran 2014. Meskipun
sudah termasuk rencana prioritas dari dana anggaran 2014 untuk membangun asrama
di Jayapura tapi gagal direalisasikan programnya sesuai rencana walupun dananya
sudah di terrealisasi. Gagalnya pembangunan asrama tidak sesuai rencana terjadi
karena terdapat pro dan kontra terhadap rencana tersebut oleh pengguna anggaran
dan pengguna asrama itu sendiri (terdengar
aneh tapi nyata). Sehingga anggaran tersebut dilakukan pembelian rumah
instan yang selanjutnya disebut asrama pelajar dan mahasiswa/i asal Distrik
Bomela. Asrama tersebut merupakan milik pelajar dan mahasiswa/i serta
masyarakat asal Distrik Bomela yang berdomisili di kota dan kabupaten Jayapura.
Secara administrasi lengkap dan penghuni pun sudah menempati asrama yang
berlantai dua ini tapi belum melakukan peresmian selayaknya.
Kebijakan
pro pendidikan berturut dilakukan karena pendidikan merupakan landasan kemajuan
suatu daerah. Menyediakan sumber daya manusia yang memadai, berkompeten dan
berdaya saing tentu memberikan kontribusi besar dalam memajukan daerah. Oleh
sebabnya kebijakan seperti ini haru di syukuri tanpa harus terjadi pro dan
kontra. Kebijakan yang merupakan solusi bagi kepentingan umum adalah hal yang
produktif dan konstruktif. Peluang untuk melakukan kebijakan demi perubahan itu
datang sekali, apabila peluang tersebut tidak ditangkap secara baik, maka tidak
akan terulang lagi. Realisasi anggaran baik PNPM Mandiri maupun respek sudah
sangat transparan dalam penggunaan anggaran, musti seluruh lapisan masyarakat
yang ada di Distrik Bomela harus mendukung akan kegiatan-kegiatan tersebut. Hendak
memasuki tahun 1 (satu) tahun berjalan, kondisi biasa-biasa terus menghantui
para pelajar dan mahasiswa asal Distik Bomela. Sangat jauh berbeda dengan
situasi sebelum ada asrama di wamena dan Jayapura. Apakah keadaan ini terbawa
dengan arus perkembangan Ilmu Pengetahun dan Teknologi (IPTEK) sehingga semua
pada terjerumus dalam hal ini? Mungkin ‘tidak’ dan mungkin ‘ya’.
Seiring
dengan perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi, yang ditandai dengan
kemajuan segala aspek menjadi canggih dan mudah diakses informasi. Maka tentu
berdampak positif dan berdampak negatif terhadap dinamika pengembangan
kepribadian itu sendiri. Ini merupakan sebuah beradaban baru dimana zaman
ketika anak-anak berusaha bekerja dan belajar, dan zaman dimana anak-anak lebih
banyak menikmati segala sesuatu yang instan. Upaya menafkahi kebutuhan sehari-hari
pun kini menjadi hal semudah.
Pada
prinsipnya, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan masuknya
Indonesia
sebagai salah satu negara dalam Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) atau ASEAN
Economic Community (AEC) yang telah bergulir mulai akhir tahun 2015 lalu
tentu memberikan tantangan baru untuk harus proaktif dalam belajar. MEA
merupakan realisasi pasar bebas di Asia Tenggara yang sebelumnya telah disebut
dalam Framework Agreement on Enhancing ASEAN Economic Cooperation pada
tahun 1992. MEA sebenarnya adalah persaingan antar negara tapi berdampak aktif
pada pribadi yang siap menempuh dalam persaingan tersebut. Oleh sebabnya, tidak
bisa memaksakan diri dengan kebiasaan menggunakan segala sesuatu yang instan.
Pelajar dan mahasiswa saat ini
dituntut oleh lingkungan dan perkembangan untuk harus proaktif dalam belajar.
Kondisi segalanya menjadi instan ini sangat jauh berbeda dengan situasi ketika
beberapa generasi berada. Pastikan bahwa generasi ini adalah generasi yang
mampu bersaing dengan orang-orang yang berkompeten. Upaya dan harapan pelajar
dan mahasiswa beberapa tahun yang lalu untuk harus ada rumah di Jayapura pun
sudah terwujud. Maka itu setiap orang harus bersaing mewujudkan impiannya
masing-masing. Generasi sebelumnya akan menganggap bahwa generasi sekarang
adalah generasi instans, dan generasi sekarang menganggap bahwa generasi
sebelumnya adalah generasi kerja tanpa istirahat. Tapi pertanyaannya adalah,
siapakah yang lebih sukses? Situasi saat ini merujuk penulis agar menoleh ke
belakang untuk melihat dan berpikir, dan mengarah ke depan untuk kreatif dalam
konsep dan bertindak seiring dengan perkembangan.
Upaya pro pendidikan oleh tim PNPM
Mandiri sudah berakhir di 4 (empat) yang lalu. Kini berbicara pendidikan itu
ibarat air diatas daun talas, sebentar ada diatas tapi dalam sekecap akan ada
di tanah. Mendengar aspirasi tapi membiarkan diri lewat tanpa jejak. Moment
sebaik empat tahun tak akan terulang kembali, kini pengguna anggaran sudah
kembali ke kepala kampung. Hal itu sejalan dengan program dana desa oleh
Kementerian Pedesaan, Transmigrasi dan Agraria, yang dicanangkan akan mulai
berlaku pada bulan maret 2016. Sungguh miris, ditengah penuh tantangan akibat
pro dan kontra, tapi karena kepentingan umum, sehingga kebijakan pro pendidikan
menjadi prioritas.
Komitmen
masyarakat dan pelaku anggaran dalam menyetujui Kebijakan pro pendidikan yang dilakukan
oleh tim PNPM Mandiri – Respek dengan harapan untuk mewujudkan beberapa tujuan
berikut :
1. Para pelajar dan mahasiswa menempati rumah layak huni (asrama) yang tetap.
2. Mendukung upaya orang tua untuk
menyekolahkan anak di wamena dan jayapura sebagai pusat pendidikan.
3. Bentuk kontribusi penyediaan sumber daya
manusia yang berkompeten dan berdaya saing.
4. Komitmen menyediakan Sumber Daya Manusia
yang mampu menjawab tantangan perkembangan zaman terhadap kemajuan Distrik
Bomela.
5. Wujud nyata kepedulian terhadap pendidikan
sebagai pilar utama dalam rangka membangun kerangka kemajuan daerah Distrik
Bomela.
Terbangunnya
asrama yang termewah dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) oleh tim
PNPM Mandiri – Respek ini, maka tentu beban moril harus ada di bundak setiap
anak – anak asal Distrik Bomela untuk berusaha memberi yang terbaik terhadap besar
hati (kerelahan) masyarakat 6 (enam) kampung. Memberi yang dimaksud disini
adalah bukan memberi balasan berupa barang benda. Melainkan belajar secara
efektif, efisien, dan inovatif dalam rangka mewujudkan harapan masyarakat.
Efektif
dalam mengikuti setiap proses belajar, baik di dunia sekolah atau kampus maupun
kegiatan – kegiatan ekstrakurikuler yang menopang pengembangan kepribadian,
dengan mengikuti kegiatan – kegiatan diluar jam sekolah atau kuliah itu tentu
memberikan dampak yang sangat signifikan. Karena hal itu tentu erat kaitannya
dengan pembentukan karakter terpelajar, mental kepemimpinan yang hakiki, dan
proaktif dalam menyimak setiap detik perkembangan yang selalu saja ada, tanpa
mengenal batasan kemajuan.
Efisien
dalam manajemen waktu secara baik, buat target pendidikan di setiap tingkatan,
lakukan rancangan belajar efisien dari kombinasi setiap kegiatan. Hal ini
merupakan suatu rangkain kebiasaan mendasar yang harus terbangun. Beberapa
tahun belakangan banyak sekali kejadian-kejadian yang bisa dijadikan sebagai
acuan dalam membuat sebuah target. Setiap anak harus mempunyai prinsip yang
konstruktif. Masa sekarang setiap anak harus jelih dalam mengatur waktu agar
tidak terjerumus dengan dinamika lingkungan. Pengaruh lingkungan 75% sangat
berpotensi mempengaruhi pembentukan karakter setiap anak.
Inovatif
dalam proses belajar, merubah kebiasaan – kebiasaan belajar yang tidak mengubah
pola pikir. Belajar untuk melakukan hal – hal baru, dengan membiasakan diri
dengan melakukan hal – hal baru akan berdampak luas dalam mengubah pandangan
untuk jelih dampak positif dan negatif. Kebiasaan melakukan hal – hal baru saat
sekolah atau kuliah akan terbawa saat bekerja di lapangan. Andaikan saat ini
kebiasaan biasa – biasa dapat ditanamkan, maka hal itu juga yang akan terbawa
di dunia kerja. Melakukan hal – hal baru dalam proses belajar adalah merupakan
sebuah tindakan inisiatif dari dalam diri. Kadangkala ada pemandangan yang
tidak responsif terhadap pengaruh eksternal dalam melakukan aktivitas belajar.
Berada pada dunia yang penuh dengan kemajuan teknologi informasi ini, merupakan
sebuah tantangan bagi setiap anak yang berada di bangku sekolah dan kuliah.
Karena persaingan kualitas menentukan tingkatan kebiasaan dalam belajar. Setiap
orang akan tampil genius dan cerdas apabila proses belajarnya sinkron dengan
situasi dalam studi maupun lingkungan bermain.
Sejalan
dengan perkembangan daerah, yang ditandai dengan adanya persaingan perkembangan
setiap kabupaten, baik di Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Pegunungan Bintang
maupun kabupaten – kabupaten lain yang dimana orang Bomela bekerja. Maka
harapan tentu persiapannya dalam Sumber Daya Manusia harus yang produktif.
Kondisi nyata di lapangan menunjukan bahwa 3 (tiga) hal tersebut diatas, yakni
Efektif, Efisien dan Inovatif dalam proses belajar, merupakan sebuah kombinasi
tindakan yang paling urgen. Dalam melakukan proses belajar tidak tergantung
terhadap siapa pun. Keinginan sekolah harus lahir dari dalam diri tanpa ada
unsur memaksakan. Karena melakukan hal – hal baru dalam proses belajar tentu
merupakan sebuah tindakan oleh para pelajar itu sendiri.
Minimnya
sumber daya manusia yang produktif dalam bekerja, akan berdampak buruk dalam
pelayanan masyarakat luas. Berkaca pada kondisi nyata di lapangan, banyak
masyarakat yang bertolak belakang dengan pelayanan publik akhir – akhir ini di
Kabupaten Yahukimo. Dinamika itu merupakan sebuah tantangan yang positif, dan
sebuah kredit poin yang berbobot bagi para pelajar dan mahasiswa yang aktif
belajar. Kondisi ini bukan merupakan kondisi yang harus dijadikan sebagai buah
bibir, atau pun bahan berbincangan hangat tanpa ada reaksi konstruktif.
Melainkan kondisi yang harus dicermati secara baik dan memberi respon secara
proaktif juga. Proaktif mahasiswa saat ini sangat membutuhkan dalam sejalan
dengan tuntutan perkembangan daerah. Sinkronisasikan proses belajar dengan
setiap situasi dan perkembangan daerah akan sangat efektif, apabila telah
selesai pendidikan. Karena akan mewujudkan harapan masyarakat Distrik Bomela.
Dimana dengan kehadiran orang – orang yang terpelajar disana, maka tentu siap
menjawab tantangan kemajuan daerah. Sehingga para pelajar dan mahasiswa asal
Distrik Bomela harus proaktif dalam melakukan aktivitas proses belajar di
sekolah atau kampus, dan dituntut oleh lingkungan perkembangan agar setiap
orang harus masuk dalam kategori orang diperhitungkan di dunia kampus,
lingkungan gereja, pemerintah dan masyarakat. Dukungan masyarakat 6 (enam) kampung
untuk menjawab aspirasi mahasiswa dan pelajar untuk membangun asrama telah
terwujud dengan dibangunnya 2 (dua) asrama mewah. Selanjutnya masyarakat
menantikan reaksi dan tindakan para pelajar dan mahasiswa mewujudkan harapan
masyarakat Distrik Bomela.
Ucapan
terima kasih kami dari hati yang paling dalam, sudah selayaknya kami sampaikan
kepada tim PNPM Mandiri Distrik Bomela dan masyarakat 6 (enam) kampung Distrik
Bomela. Karena bagaimana pun realisasi program yang ditandai dengan pembangunan
asrama termegah di wamena dan Jayapura adalah merupakan bentuk bukti atas
kebijakan pro pendidikan dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) Tahun
Anggaran 2011, 2012, 2013 dan 2014. Kiranya Tuhan Yesus yang punya sumber
berkat dan hikmat memberkati setiap detik kerja para tim PNPM Mandiri-Respek
sekalian.?
Penulis : Panuel Maling, ST
Mahasiswa Asal Distrik Bomela.