Tuesday, September 6, 2016

Alumni SD YPK Bomela di New Zeland – Australia.

Naten Sunyap,S.s
 
Salah satu dari >1000 alumni SD YPK Bomela mengenyam ilmu di negara rusa – Australia. Dia adalah “Natan Sunyap, S.s” yang saat ini menjadi Mahasiswa InternationalPasific University. Natan yang juga alumni jurusan sastra di Universitas Veteran Makassar – Sulawesi Selatan ini membuka lembaran baru bintang-bintang fajar timur bersinar mengikuti jejak sang pelopor ini. Lahir di desa terpencil dan terisolir tidak menjauh dari ruang dan waktu dalam berpikir kompetitif dan terus melangkah. Motivasi tinggi untuk terus belajar dan melangkah menjadi modal dalam mengarungi dunia pendidikan ke jenjang atas di negara yang penuh tantangan dari berbagai aspek kemajuan.
Sifat dasar yang ramah, mudah tersenyum dan bergaul dengan tanpa pandang bulu ini mengantar anak muda yang suka berpikir global ini menuju negara yang penuh misteri belahan bumi bagian selatan. Sebagai sesama alumni SD YPK Bomela tentu kita bangga karena berawal sebuah keinginan untuk mengenyam pendidikan, akhirnya juga terus mendunia. Mungkin dalam alam berpikir kalangan atas memandang hal ini biasa-biasa saja. Tapi bagi kami hal ini sangat luar biasa. Karena sebagai anak pertama dari Desa Yalmebi, Distrik Bomela dan organisasi Gereja Jemaat Reformasi Papua (GJRP) yang mengenyam pendidikan di New Zeland – Australia. 

“Sejarah itu dilakukan oleh orang-orang yang ingin melakukan sejarah dalam hidupnya”.  Alumni SD YPK Bomela tentunya memiliki kualitas yang mumpuni untuk bersaing dengan orang lain. Hal itu dibuktikan dengan mutu lulusan di berbagai pendidikan tinggi yang dapat diperhitungkan. Bahkan sampai ada yang mengenyam pendidikan hingga Strata Dua (S.2), yakni Esap Aruman, SE,.MM (Alm) Kepala Distrik Weime Kabupaten Pegunungan Bintang.  Dan masih banyak lagi sarjana yang saat ini diperhitungkan mutu kerja diberbagai bidang dan berbagai tempat kerja. Sungguh indah! Itulah sebuah kalimat yang layak diucapkan.

Generasi sekarang adalah generasi emas menduduki bintang-bintang di langit. Bermimpi untuk menduduki bulan tapi apa daya tak sampai. Cukuplah menghiasi dunia ini dengan warna-warni bintang-bintang di langit. Sengit dan canggihnya kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) menantang setiap orang untuk bersaing melangkah maju. “Orang-orang yang menguasai teknologi dan informasi yang menguasai dunia~Dr.Onesimus Sahuleka, SH,.M.Hum~ (Rektor Universitas Cenderawasih). Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak hanya mengubah pola pikir manusia, tapi juga bergeser pola hidup manusia yang statis. Kehidupan manusia sebenarnya adalah dinamis dan bagaikan roda mobil. Yang mana sedetik ada diatas dan sedetik pula ada di bawah. Filosofi ini menggambarkan tentang pandangan buruk antara tidak bisa dan bisa. Kebiasaan yang buruk mulai terbangun diantara masyarakat atau kalangan berintelektual tinggi. Mereka berpikir bahwa mereka yang berada di ambang atas tetap dan mereka yang berada di ambang bawah tetap. Ini adalah konsep berpikir yang melangkah mundur. Semua kalangan mempunyai kesempatan yang sama. Semua orang pasti merubah pola hidup yang tidak berkembang. Pendidikan merupakan salah satu alat peraka dalam mengubah paradigma pasif tersebut. Pola berpikir yang konstruktif itu lahir dari kalangan yang berpendidikan.

Dimulai dari langkah yang kecil dan sederhana, perjalanan itu terus mengantarkan kami menuju dunia yang besar. Itulah sebabnya banyak orang berkata bahwa, mulailah berpikir dan melakukan hal-hal kecil. Karena tanpa kita sadari hal-hal itu akan membawa kita ke dunia yang besar. Sejenak merenung kisah perjalanan lulusan (sarjana muda) 2014-2015 itu meninggalkan berbagai rekam jejak yang tak mungkin kami lupakan. Dimulai dari persekutuan P2MB, Sekolah Minggu, PAM, komunitas berdoa bersama orang-orang hebat dari Negeri gincir angin (Netherlands) dan kebersamaan dimana kami berada ketika di Wamena. Beberapa sarjana yang lulus pada tahun 2014-2015, yakni : Kileon Aluwa, SH;Natan Sunyap, S.s; Daud Aluwa, S.Pd; Ebdon Maling, S.Pd; Panuel Maling, ST; Onesimus Aluwa, S.Pd(sebenarnya banyak, tapi yang disebutkan ini adalah menurut hemat penulis. Deretan nama-nama yang meninggalkan rekam jejak di wadah-wadah kecil). Banyak teman-teman seangkatan yang tidak peduli dengan hal-hal kecil. Tapi kami terus setia belajar dan melakukan hal-hal kecil.

Dunia ini milik orang-orang yang setia pada perkara-perkara kecil, penuh dengan semangat, motivasi tinggi serta kerja keras yang unggul dan cerdas. Banyak orang pasti mempunyai kisah dan pengalaman hidup yang berbeda. Hal itu tentu merupakan rekam jejak masing-masing orang yang berjuang memuncaki klasemen kesuksesan. “Kesuksesan adalah setiap detik kehidupan yang dijalani, bukan hasil akhir” ~John Maxwell~. Sebagai bagian dari Alumni SD YPK Bomela, tentu sangat bangga akan hal ini.

Penulis menulis artikel ini berawal dari sebuah kebanggaan akan sesama alumni SD YPK Bomela yang mengenyam pendidikan di New Zeland. Ditengah tangan-tangan besi yang merajik generasi ini mulai runtuh berjatuhan. Guru-guru SD YPK Bomela mengalami kegoncangan oleh badai penyakit sosial masyarakat. Marinus Aluwa, Amd.PAK; Titus Balyo; Panus Alya, Amd.PAK; adalah sederet guru-guru yang hebat tapi meninggal. Siapa kami hari ini, tentu merupakan sentuhan tangan besi mereka. Semoga artikel ini termotivasi bagi generasi muda yang terus belajar.

Penulis : Panuel Maling, ST
Teleb!!