Penulis : Malin6, Panuel (Mahasiswa)
Dewasa
ini ditengah perkembangan zaman banyak kalangan beranggapan bahwa menyibukan
diri dengan masalah orang lain adalah prioritas utama dalam kehidupan sehari –
hari. Bahkan masalah dianggap sebagai pokok pembahasan terpanas akhir – akhir
ini. Hal ini terjadi ketika peran simpati, empati dan pengampunan kembali
menjuat sebagai sesuatu yang langka dalam langkah hidup pribadi, kelompok
maupun masyarakat luas.
Murah
hati selalu berkenaan dengan sikap memberi; entah memberi waktu, tenaga, materi,
atau juga memberi diri. Namun, tidak semua pemberian bertolak dari kemurahan
hati. Sebab bisa saja orang memberi dengan maksud tertentu, alias ada
pamrihnya.
Dalam
bahasa Yunani murah hati adalah eleemon
(bahasa Ibrani : Khessed). Kata ini mengandung
tiga pengertian: (1) Simpati, kesediaan untuk menanggung kesusahan dan
kesedihan orang lain; (2) Empati, kesediaan untuk menempatkan diri pada
“posisi” orang lain; ikut merasakan dan mengalami apa yang orang lain rasakan
dan alami; (3) Pengampunan, kesediaan untuk memaafkan orang lain yang menyakiti
atau disakiti, lalu memulai kembali relasi baru tanpa dibayangi kebencian.
Pada
zaman modern sekarang ini, nilai – nilai kemurahan hati terkikis. Simpati menjadi sesuatu yang langka.
Orang bisa sambil tertawa – tawa membicarakan musibah yang menimpa orang lain,
atau bahkan tega menambah kesulitan kepada orang lain yang hidupnya sudah
susah. Empati juga semakin sukar
ditemui. Orang gampang melontarkan celaan, fitnahan, gosip, ejekan terhadap orang
lain, tanpa memikirkan bagaimana kalau mereka atau keluarga mereka yang
mengalaminya. Begitu pula pengampunan,
semakin mahal. Yang subur justru balas dendam; mata ganti mata, gigi ganti
gigi, pukulan dibalas pukulan, bom dibalas bom. Malah semakin runyam.
Kemurahan
hati adalah cerminansifat Allah. Dan tugas manusia adalah terus menumbuhkan dan
mengembangkannya dalam kehidupan sehari – hari. Untuk itu kita bisa memulainya
dari lingkungan kita yang paling dekat.
Masalah
yang dihadapi oleh orang lain dan atau pun kita, sudah waktunya tidak kita
memasarkan akan hal tersebut. Justru kita harus menempatkan diri pada posisi
dimana mereka berada. Karena kita pun tidak sadar jika hal yang sama bisa
menimbah diri kita tanpa kita sadari kapan akan terjadi. Oleh sebab itu, harga
pengampunan yang kini menjuat mahal harganya, harus menyadari dan
menurunkannya. Pergunakanlah sisa hidup ini untuk mengampuni orang yang
bersalah kepada kita, atau pun sebaliknya. Bangun relasi sejajar dengan sejauh
mana tingkat kita bisa melakukannya. Karena berbuat murah hati terhadap sesama
kita (horizontal) adalah sudah tentu kita melakukan kehendak Tuhan Yang Maha
Esa.
“Selagi bumi ini masih berputar mengelilingi
matahari, jangan sekali – kali ada yang berpikir bahwa masalah tidak akan ada
di dalam hidup kita. Tapi akuilah bahwa suatu saat nanti entah kapan waktu dan
ruangnya, pasti kita akan berputar menginjakan kaki pada area yang sama”.
Jadi, hendaklah setiap orang yang mengakui bahwa Kristus adalah Raja Damai dan
Juruselamat, maka kini waktu yang tepat untuk menjalani teladan Kristus.
Semoga
artikel ini memberikan angin segar guna merefresh kesenjangan hidup ini,
Kata
Kunci : “Kemurahan
hati pada zaman sekarang ini ibarat segelas air segar di padang gersang”
Semoga Bermanfaat..!!!


