HITAM & PUTIH
(Aku PAPUA)
Oleh:
Malin6 P
Hitam dan putih merupakan dua warna yang masing-masing
mencirikan keadaan tertentu. Bahkan seringkali manusia mengartikan kedua warna
tersebut dengan berbagai sudut padang. Salah satu yang lebih populer dari
artian kedua warna ini adalah HITAM = Gelap dan PUTIH = Terang.
Dalam pembahasan ini, ulasannya lebih menitikberatkan pada
pandangan publik terhadap kulit hitamnya Orang Asli Papua (OAP). Manusia
berkulit hitam di dunia ini sudah menjamur seantero total. Namun dalam
pandangan terhadap orang Papua oleh orang asli Papua maupun non Papua masih
komplen terhadap kulit hitam.
ORANG ASLI PAPUA
Seiring berjalannya waktu, memasuki abad ke-19-20 muncul
sebuah pemikiran yang komplen terhadap kulit hitam oleh orang asli Papua itu
sendiri terhadap dirinya. Ada orang yang memang sama sekali tidak menerima
kulit asli dirinya (hitam) sebagai sesuatu yang unik berkualitas dari ciptaan
sang pencipta. Bebagai upaya pun dilakukan agar kulit menjadi putih dalam
keadaan sadar maupun tidak sadar. Hal itu terjadi, seketika Orang Asli Papua
(OAP) melihat ada orang kulit putih dari berbagai belahan dunia yang masuk ke
Papua sejak zaman penginjilan (masa primitif) hingga zaman modern (masa
sekarang). Entah itu ketika melihat orang Indonesia bagian barat atau pun orang
asing. Perbedaan muncul dari perjumpaan yang membanding-bandingkan pembawaan
warna kulitnya.
Orang Papua seolah melupakan sentuhan sang pencipta, pada
hal totalitas orang Papua adalah beragama Kristen. Kristen yang artinya
pengikut Kristus. Kristen diambil dari kata Christos (Kristus). Maka pada
pemikirannya, totalitas pemikiran dari kehidupan manusia harus berpusat pada
Kristus. Bukan hanya sebuah hiasan atau jawaban atas kolom penulisan agama di
Kartu Tanda Penduduk (KTP). Orang Papua seharusnya tidak perlu mempersoalkan
tentang dirinya berkulit hitam. Karena pada prinsipnya bahwa manusia berkulit
hitam atau putih semuanya adalah uniknya ciptaan Tuhan. Yang harus diketahui
adalah manusia merupakan ciptaan Tuhan sesuai gambar dan rupa Allah.
"Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita
menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas
ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh
bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." (Kejadian
1:26)"
Saking komplennya, orang Papua menggunakan berbagai cara untuk mengubah kulitnya. Dimulai dari penggunaan produk-produk modern agar kulit terlihat TERANG (putih). Diprediksikan ada kemungkinan akan ganti kulit disaat lahir, ini bisa terjadi atas pandangan orang tua atau setelah anak bertumbuh dan melihat orang-orang kulit putih (kalimat ini ulasan kemungkinan).
Akhir-akhir ini muncul sebuah kata yang bertuliskan di kaos
"Hitam kulit dan keriting rambut itu IDENTITAS." Tindakan lanjutan
dari lagu "Hitam kulit, keriting rambut aku Papua" Edo Kondologi.
Tulisan dan lagu ini merujuk pada membasmi pandangan buruk terhadap kulit
hitamnya orang Papua oleh OAP maupun NOP.
Hi,
orang Papua. Belajarlah memandang dan menerima kulit "HITAM" sebagai
keunikan dan kualitas sang Pencipta. Sejelek-jeleknya kulit saya dan anda
adalah anugerah Allah secara cuma-cuma semata. Bukan atas perbuatas baik kita
(manusia) atau karena ada hubungan kekeluargaan (balas budi kebaikan manusia).
Sungguh indah ciptaan sang penguasa khalik langit dan bumi.
NON ORANG PAPUA
Pandangan orang non Papua terhadap orang Papua seringkali
sangat kontroversi terhadap kulit hitamnya orang Papua (tidak semua (yang gagal
paham)). Saking pandangan buruknya, orang Papua dianggap sebagai manusia
keturunan KERA. Pemikiran sejelek-jeleknya dipandang dan diucapkan sebagai
"manusia HITAM-BLACK" (kalimat
cemohoan).
Memasuki zaman modern kini, peradaban persaingan dunia
kerja, kadangkala beda ras menjadi masalah kompleks. Asal usul menjadi hal yang
dipersoalkan. Orang Papua tidak diterima keberadaannya di dunia kerja
dimana-mana (sungguh sadis). Hal itu ditandai dengan pembunuhan sadis baik
secara langsung maupun tidak langsung. Era sekarang muncul pembunuhan etnis
berkulit hitam (OAP) dengan berbagai cara yang berjalan kontinyu (sistematis,
terstruktur dan masif). Perlahan mulai punah ciri khas Orang Asli Papua (OAP).
Beberapa tahun mendatang, hilang lenyap orang berkulit hitam.
Namun demikian, dilain sisi yang mengerti baik bahwa
sehitam-hitamnya kulit orang Papua sebagai anugerah sang Pencipta dapat
memberikan peluang hidup dan hidup berbaur dalam kasih dan anugerah sang
Pencipta.
PANORAMA PULAU PAPUA
Pantai Sorendiweri Supiori - PAPUA
Jikalau mengelilingi Pulau Papua dari Sorong - Samurai.
Keindahan alamnya bertolak belakang dengan pandangan-pandangan buruk terhadap
penghuni Pulau Papua oleh OAP maupun NOP diatas. Perlahan mematahkan pandangan
buruk terhadap insan dengan panorama Indah. Alam indah yang menggambarkan
uniknya Tuhan menciptakan alam yang indah dan manusia Papua yang unik serta
berkualitas. Rencana Tuhan menempatkan Orang Papua di Pulau Papua yang sangat,
sangat INDAH. Bagaimana tidak, jika mengelilingi Pulau Papua akan dijumpai
tanda heran yang satu ke tanda heran yang lain dari pancaran pesona indahnya
Pulau Papua.
Pulau Papua yang unik itu, ditandai dengan adanya gunung
yang menjulang tinggi dan bersalju, lembah yang subur, daratan yang sulit
ditelusuri indahnya, dan lautan nan biru yang memberikan harapan hidup (citra
cerahnya masa depan Papua).
Saking indahnya Pulau Papua, orang-orang dari berbagai
belahan dunia pun berdatangan dengan berbagai misi. Ada yang berwisata, ada
yang tinggal menetap dan ada misi buruknya adalah menguasai totalitas keindahan
Pulau Papua. Pulau Papua selain menyediakan destinasi wisata yang unik bagi
pengunjung domestik maupun manca Negara. Pulau Papua juga menyediakan kekayaan
Sumber Daya Alam (SDA) yang menjanjikan ketangguhan ekonomi dunia. Kebutuhan
pokok manusia pun disediakan secara alami oleh Tuhan di Pulau Papua.
Kelangsungan hidup dan pemberdayaan ekonomi dunia akhir-akhir ini berpusat pada
SDA Pulau Papua. Saking kayanya Pulau Papua, juga menciptakan konflik
horizontal yang kompleks antar individu maupun negara-negara. Sampai detik
penulis menulis artikel ini, masalahnya belum juga tuntas diselesaikan. Permasalahannya
kini masuk ke rengking dunia. Berbagai perjuangan dilakukan dengan berbagai
misi, baik itu oleh ORANG ASLI PAPUA dengan misi Free West Papua (FWP), maupun
oleh negara-negara yang berkepentingan terhadap SDA Pulau Papua, sebut saja
negara-negara tersebut adalah Indonesia, USA, Australia, Inggris, Rusia, dll.
Dimanakah hati manusia dunia untuk membangun dan
memperdayakan Orang Asli Papua? sebuah pertanyaan yang seringkali muncul dalam
pikiran kecil kaum terkecil (penghuni Pulau Papua).
KESIMPULAN
Orang
Asli Papua (OAP) harus sadari bahwa, hitam kulit adalah merupakan anugerah
Allah yang mencirikan keunikan dan kualitas Tuhan menciptakan manusia sesuai
gambar dan rupa diri-Nya. Sejatinya Orang Papua mensyukuri akan karya-Nya.
Dengan melakukan berbagai percobaan, tak akan pernah berubah identitas (ras)
orang Papua. Tuhan yang menciptakan dan Tuhan pula yang melindungi, takkan satu
pun dahan yang jatuh, jikalau itu bukan kehendak-Nya.
Non Orang Papua (NOP) harus sadari bahwa, hitam kulit dan
keriting rambut Orang Papua adalah identitas yang memberikan keunikan dalam
perbedaan. Sudah tidak selayaknya manusia dipandang setara hewan. Siapa pun
anda yang memandang Orang Papua sebagai manusia keturunan KERA, sesungguhnya
ANDA-lah yang mencerminkan sifat dan karakter si KERA itu sendiri. Siapa pun
anda yang menghujat Orang Papua sebagai manusia "Hitam-BLACK",
sesungguhnya ANDA-lah yang berhati hitam (black) yang tidak mampu melihat
uniknya Tuhan menciptakan manusia. Andalah yang gagal paham akan rencana dan
kehendak Tuhan menciptakan manusia sesuai gambar dan rupa-Nya. Terpujilah
Tuhan, sebab diantara sedikit orang yang membenci sejeleknya-jeleknya kulit
hitam orang Papua. Sebagian besar manusia (penghuni seantero dunia) yang
melihat adanya campur tangan Tuhan dalam menciptakan Orang Papua. Sehingga
kehidupannya ditandai dengan hidup berbaur dalam satu kasih Tuhan.
Pulau Papua yang indah mencerminkan adanya keunikan dan
kualitas Tuhan menciptakan langit dan bumi. Orang Papua jangan berbangga diri
memiliki kekayaan dan keunikan Pulau Papua tanpa mengakui hebatnya (dashyatnya
Tuhan) dalam menciptakan Langit dan Bumi. Kalau bukan Tuhan yang menciptakan
manusia Papua dan Pulau Papua, berarti itu bukan Orang Papua dan bukan pula
Pulau Papua. Orang Papua harus belajar takluk di hadirat-Nya yang berkuasa atas
segala ciptaan-Nya.
Semoga Artikel ini bermanfaat bagi Orang Papua. Mohon
dimaafkan jikalau dalam ulasan artikel ini menyingkung perasaan para pembaca
sekalian.
Soli
Deo Gloria.

