Wednesday, June 30, 2021

HONAIKU ADALAH ISTANAKU

Oleh: Panuel Maling
Ketua Komunitas Seni dan Budaya Suku UNA (KSB-UNA) Kabupaten Yahukimo

Honai yang dalam bahasa daerah Suku UNA disebut “AI” adalah tempat tinggal manusia. Secara turun temurun, honai dibagi menjadi ada 2 (dua) jenis, yaitu honai laki-laki yang biasa disebut “Youwa” dan honai perempuan yang biasa disebut “Diba”. Honai laki-laki dalam satu kampung biasa terdiri atas 5-6 honai sesuai jumlah kepadatan penduduk khusus laki-laki. Sedangkan honai perempuan disesuaikan dengan jumlah kepala keluarga dalam satu kampung tersebut. Setiap anak laki-laki, jika sudah berkeluarga, wajib membangun honai perempuan sendiri dan tidak bisa tinggal bersama dengan orang tua.
Secara administratif kampung/Desa Kitikni terletak di Distrik Bomela, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Secara geografis terletak pada: 4040’32.68” Lintang Selatan dan 139053’43.43” Bujur Timur. Kampung Kitikni terletak pada ketinggian 1.810 mdpl. Kampung Kitikni termasuk kampung yang tertinggal dari kemajuan, rata-rata mata pencaharian masyarakat setempat adalah berkebun. Kampung Kitikni termasuk salah satu kampung di pedalaman Papua yang masyarakatnya hidup dibawah garis kemiskinan, tapi tetap lestarikan budaya honai. Honai laki-laki di kampung Kitikni terdiri atas 6 (enam) honai laki-laki, yaitu Mintal duwa; Omok duwa; Ina duwa; Bam duwa; Manga duwa; dan Turun duwa. Sedangkan honai perempuan di kampung Kitikni ada 69 honai perempuan. Kampung Kitikni masyarakat masih lestarikan honai adat sebagai tempat hunian secara turun-temurun.
Secara budaya, honai laki-laki biasanya dihuni hanya oleh laki-laki dan perempuan tidak bisa masuk sembarang dengan alasan apapun. Honai laki-laki dijaga secara khusus sebagai tempat sakral. Ada beberapa fungsi honai laki-laki adalah tempat musyawarah laki-laki dalam merancang strategi perang antarkampung maupun antarsuku; merancang strategi kegiatan atau acara-acara adat (Mouwa); tempat tinggal atau menginap khusus laki-laki; tempat terima tamu khusus laki-laki dari daerah lain dan atau kampung lain; tempat pendidikan adat anak laki-laki (inisiasi) sebelum terjun ke dunia perang; dan tempat menyimpan alat-alat budaya seperti panah, busur, pakaian adat, noken, bulu cendrawasih dan hiasan lainnya yang biasa dipakai dalam medan perang dan acara-acara adat lainnya. Keunikan dari honai laki-laki adalah honai laki-laki dipandang sebagai ciri khas kampung tersebut, karena dihuni oleh beberapa marga dari penduduk kampung tersebut; halaman honai laki-laki harus bersih dari sampah; bebas dari keramaian anak-anak kecil dalam halaman; bebas dari peliharaan ternak; tempat pusat pelaksanaan acara-acara adat; masalah antarwarga kampung harus diurus dan diselesaikan secara damai di halaman honai laki-laki; serta kegiatan-kegiatan dalam kampung tersebut harus diselenggarakan di depan halaman honai laki-laki tanpa terkecuali. Kemudian honai laki-laki (Youwa) biasa diberi nama sesuai dengan asal-usul, kisah hidup dan secara masa lalu penghuni laki-laki dalam honai laki-laki itu. Perlakuan istimewa honai laki-laki secara budaya ini layaknya disebut istana mini, yang diwariskan secara turun-temurun.
Sedangkan honai perempuan dihuni khusus oleh perempuan dalam satu keluarga. Honai perempuan tidak diberi nama seperti honai laki-laki, karena tidak mempunyai sejarah penting berdasarkan nilai kebudayaan masyarakat setempat. Secara budaya, laki-laki (suami, anak laki-laki maupun tamu laki-laki dari kampung lain), tidak bisa menginap di honai perempuan. Di honai perempuan, laki-laki hanya makan bersama keluarga, menerima tamu keluarga, dan acara-acara keluarga lainnya. Makanan laki-laki biasa dikhususkan oleh ibu-ibu, yang selanjutnya laki-laki (suami/anak-anak laki-laki) mau makan bersama keluarga di honai perempuan atau bawa ke honai laki-laki untuk makan itu kewenangan mutlak laki-laki. Di honai perempuan, selain berfungsi sebagai tempat tinggal perempuan; terima tamu; dan aktifitas kekeluargaan; honai perempuan juga sebagai tempat pelihara ternak khusus babi peliharaan. Karena secara budaya, siapa yang tidak memelihara babi dalam rumah, dia termasuk kategori orang miskin dari kampung tersebut. Standar penilaian ini sudah sejak dahulu kala, sehingga wajib ada pelihara babi dalam rumah/honai perempuan. Dan itu tidak biasa bangun kandang ternak babi sendiri. Hal ini tidak termasuk dengan budaya di Papua lain yang mengakui seorang kepala suku yang adalah mereka yang mempunyai harta kekayaan banyak. Di suku Una, pengakuan terhadap seseorang sebagai kepala suku berdasarkan latar belakang sebagai kepala perang era dulu. Yang kemudian dapat diwariskan kepada anak tunggalnya di masa kini, jikalau anaknya itu mampu memimpin masyarakat. Secara budaya, seorang kepala suku berpenghuni tetap di honai laki-laki yang dianggap honai laki-laki ternama di kampung itu. Di kampung Kitikni, ada seorang kepala suku bernama Yansaiya Maling yang biasanya tinggal di honai laki-laki bernama Omok duwa. Omok adalah salah satu pohon yang biasa digunakan oleh masyarakat untuk membangun honai laki-laki Omok duwa.
Bahan-bahan untuk bikin honai tidak sembarangan, ada beberapa bahan yang menjadi pilihan masyarakat kampung Kitikni yaitu pohon tiang penyangga berupa kayu besi dalam bahasa daerah, seperti yukan, kikwe, manga, omok, katan, lakwe dan uw; daun atap rumah (car) dan mek bol untuk penahan bagian bawah atap; tali rotan (toker); bahan untuk alas lantai (kun) khusus untuk honai laki-laki dan yakli bol khusus untuk alas lantai honai perempuan. Untuk bahan alas lantai honai laki-laki tidak bisa dibikin pakai yakli bol atau juga sebaliknya honai perempuan. Pemilihan bahan-bahan dan persiapan bahan biasa dilakukan oleh orang dewasa, sementara angkutan biasanya dilakukan oleh laki-laki dewasa dan anak-anak muda laki-laki. Anak-anak muda laki-laki secara mandiri sendiri bisa ikuti langkah-langkah pembangunan honai, apabila sudah belajar dari orang dewasa. Kemudian ambil daun khusus untuk atap honai (Car) diambil oleh perempuan. Daun yang biasa digunakan untuk atap honai adat khusus suku Una adalah Car, sejenis daun bandang dan bukan alang-alang. Pemilihan bahan-bahan bangunan ini dilakukan dengan alasan untuk menjaga kualitas rumah, daya ketahanan rumah dan daya tampung beban. Tiga hal ini merupakan aspek utama untuk mengukur dan menentukan waktu tahan lama, yang biasanya, bertahan 20-30 tahun lamanya. Honai biasa dibangun diatas tanah yang kering dan rata permukaan tanah.
Ada beberapa tahapan-tahapan yang biasa dilakukan sebagai proses pembangunan honai, yaitu tahap persiapan bahan-bahan 2 (dua) minggu, tahap angkutan bahan-bahan dari tempat persiapan ke perkampungan 1 (satu) minggu dan tahap pembangunan 1 (satu) hari. Tahap pembangunan biasa satu hari, karena dibangun secara bergotong-royong oleh khusus laki-laki dewasa dari kampung tersebut. Dahulu, pembangunan honai laki-laki (Youwa) ditandai dengan tarian khas daerah Suku Una, yaitu tarian ular (Limna Mot). Tarian ular (Limna Mot) itu biasa sepanjang malam (12 jam) sebelum bongkar honai laki-laki untuk dibangun kembali. Pada saat bongkar dan bangun honai, harus ada acara masak tradisionl yang lazim terkenal bakar batu (Kwalina Sirik) sebagai budaya orang asli Pegunungan Tengah Papua. Masakan bakar batu merupakan sebuah tradisi masyarakat dalam acara-acara adat sebagai warisan nenek moyang. Karena makan bersama harus dari masakan bakar batu (Kwalina Sirik). Sampai sejauh ini, budaya masakan bakar batu masih terlestarikan.
Bentuk honai secara budaya di suku Una adalah berbentuk kerucut meruncing ke atas. Tinggi honai laki-laki adalah 2 ½ meter, lebar dari tunggu api ke tiang penyangga adalah 2 meter keliling melingkar. Sedangkan tinggi honai perempuan adalah 2 meter, lebar dari tunggu api ke tiang penyangga adalah 1.60 meter. Dalam honai laki-laki maupun perempuan dibuat rak-rak untuk menyimpan alat-alat budaya untuk di honai laki-laki dan kelengkapan rumah serta alat budaya untuk honai perempuan. Dalam honai laki-laki terdapat tempat taruh kayu (basuna) satu deret dengan terdapat 4 (empat) tiang penyangga; sedangkan di honai perempuan dibuat minimal 3 (tiga) deret tempat taruh kayu (basuna) dengan terdapat 4 (empat) tiang penyangga. Honai laki-laki terdapat 1 (satu) pintu keluar masuk; sedangkan honai perempuan terdapat 2 (dua) pintu, yang satunya pintu keluar-masuk manusia dan yang satunya pintu keluar-masuk ternak babi. Bentuk dan ukuran honai ini sudah berstandar dan dilestarikan dari dulu hingga sekarang. Rumah asli honai laki-laki (Youwa) maupun honai perempuan (Diba) tidak terdapat ventilasi udara. Tidak ada ventilasi pada honai beralasan agar terhindar dari serangan musuh saat perang antarkampung/antarsuku pada zaman dahulu; tapi hingga kini bentuk rumah itu masih terpelihara walaupun sudah tidak ada perang-perangan. Selain itu, tidak adanya ventilasi rumah karena terhindar dari angin (kedinginan). Karena letak perkampungan di pegunungan yang suhu rata-rata dingin. Suku Una terletak di pegunungan yang ketinggian rata-rata 1.000-3.000 mdpl. Kemudian, dalam honai laki-laki (Youwa) maupun honai perempuan (Diba) bikin api (uk) dalam honai yang tidak boleh padam, kecuali tidak ada orang. Di tengah-tengah honai terdapat tunggu api, yang setiap malam saat tidur mengelilingi tunggu api tersebut. Api berfungsi untuk bakar ubi (Kwaning Kwetena), masak sayur, tapi juga untuk menghangatkan rumah saat tidur malam hari agar tidak kedinginan.
Hingga kini, bentuk honai, jenis honai, fungsi honai laki-laki (Youwa) dan honai perempuan (Diba), serta kebiasaan pemilihan bahan-bahan bangunan honai masih terpelihara sebagai bagian dari warisan budaya yang dilestarikan secara turun-temurun. Fungsi honai laki-laki yang tidak dilestarikan saat ini adalah pendidikan adat (inisiasi) bagi anak-anak muda. Karena pendidikan adat (inisiasi) dilakukan pada zaman dahulu sebagai sekolah adat persiapan generasi muda yang terampil secara mental dan cara-cara teknis dalam medan perang antarkampung dan/atau perang antarsuku. Pendidikan adat kini tidak dilestarikan karena sudah tidak ada perang-perangan, dan sistem pendidikan sudah tergantikan sekarang dengan adanya penyelenggaraan pendidikan formal. Fungsi lainnya yang masih terpelihara hingga kini, walaupun ada perubahan-perubahan dengan dinamika modern, pengaruh modern tidak mempengaruhi kelestarian budaya pembangunan honai serta fungsi honai. Di kampung Kitikni, semua honai masih terdapat honai adat, bahkan secara umum di suku Una masih lestarikan honai adat.
Ada beberapa alasan honai adat tetap dilestarikan oleh masyarakat kampung Kitikni adalah melestarikan nilai-nilai budaya; kebiasaan hidup masyarakat kampung Kitikni yang nyaman tinggal di honai; hidup di honai sangat cocok dengan kondisi iklim di kampung Kitikni; kualitas honai; daya tahan beban dan daya tahan yang lama sangat baik; serta masyarakat kampung Kitikni yang muda mendapatkan bahan-bahan bangunan. Serta budaya luar belum merampat masuk di kampung Kitikni untuk merubah tatanan kehidupan masyarakat yang terlestarikan secara turun temurun.

Kata kunci: Honai (Ai), Honai Laki-Laki (Youwa), Honai Perempuan (Diba)

Sunday, September 15, 2019

SAMUEL TABUNI "MUTIARA PAPUA"

Gambar: Koleksi foto pribadi (Istimewa)

SAMUEL TABUNI, SE selaku Directur Papua Language Institute (PLI) adalah mutiara Papua yang kini terus berjuang untuk memerdekakan Papua dari kemiskinan pendidikan, kemiskinan ekonomi, perbudakan dan pembantaian masyarakat asli Papua dari sistem negara yang tidak relevan, dan kemiskinan pola permainan politik yang sehat.

SAMUEL TABUNI MUTIARA PAPUA
Memulai pendidikan di Lombok (sekolah pilot). Tapi tidak melanjutkan karena Nduga bergejolak antara masyarakat pendukung Bupati dan Ketua DPRD dan menjadi anak Pendamai (demi masyarakat). Ke Washington DC, Amerika Serikat mengikuti 7 minggu program pelatihan yang di selenggarakan oleh Young SouthEast Asian Leaders Anitiative (YSEALI). Mendirikan sekolah Papua Language Institute (PLI), yang kemudian menjaring kerja sama dengan beberapa negara seperti Amerika Serikat, Rusia, Afrika, Australia, Papua New Guinea (PNG) dan lain-lain. Sempat juga Calon Bupati Nduga. Koordinator BAPPENAS Perwakilan Provinsi Papua. Dan masih aktif juga sebagai aktivis membela hak-hak dasar masyarakat asli Papua dari berbagai permasalahan. Ada banyak rekam jejak yang tidak disebutkan.

Papua Language Institute (PLI)

ASPEK PENDIDIKAN
Suatu bangsa akan beradab atau merdeka apabila aspek pendidikan telah dimerdekakan. Bangsa Papua hari ini, harus merdeka dari kemiskinan pendidikan untuk menjadi bangsa yang besar di Dunia. Dalam misi kemerdekaan bangsa Papua dari Kemiskinan Pendidikan, Samuel Tabuni mendirikan sekolah 'Papua Language Institute (PLI)' guna menyiapkan generasi muda Papua untuk belajar bahasa berstandar Internasional. Melalui PLI, Samuel Tabuni kini bekerja sama dengan beberapa negara diantaranya Amerika Serikat, Germany, Rusia, Australia, Afrika, Papua New Guinea (PNG) dan lain-lain. Ini merupakan sebuah terobosan baru dan mempunyai misi yang besar dalam memerdekakan bangsa Papua dari Kemiskinan Pendidikan. Meskipun banyak upaya yang dilakukan oleh Pemerintah dan Lembaga Swasta lainnya. Tapi di PLI terbukti menyiapkan anak-anak Papua yang mampu menguasai beberapa bahasa >5 negara. Selain menyiapkan anak-anak muda Papua untùk belajar di PLI, kini sedang dipersiapkan juga untuk dikirim ke Rusia pada angkatan pertama. Di PLI tidak menggunakan sistem kuno, yaitu sistem pakai jatah orang dalam dan beli peluang dengan sokok uang. Tapi terbuka untuk umum bagi generasi Papua dari Raja Ampat sampai Merauke tanpa pandang bulu. Asalkan ada niat untuk belajar dan mengandalkan kemampuan berbahasa internasional dan kemampuan profesi lainnya.

 Samuel Tabuni dan pasangannya waktu Calon Bupati Kabupaten Nduga Periode 2017-2022 (Istimewa)

ASPEK POLITIK
Di Bidang Politik, Samuel Tabuni telah memberikan pembelajaran permainan politik yang sehat dan melawan politik uang (money politic). Tahun 2017 Samuel Tabuni maju sebagai Calon Bupati Kabupaten Nduga. Tapi diakhir pemilihan ia dikalahkan oleh pasangan lainnya melalui cara permainan politik yang tidak sehat. Sempat juga TIMSES meminta untuk bawa persoalan sengketa Pilkada ke Mahkamah Konstitusi (MK) di Jakarta. Namun ia (ST) memilih legowo atas kekalahan itu. Karena perjuangan dan pengorbanannya adalah murni dari Hati Nurani untuk kesejahteraan masyarakat Kabupaten Nduga tanpa mengandalkan politik uang yang tidak beradab.

Sticker Calon DPR RI Dapil Papua. Pileg 2019

Tahun 2019, Samuel Tabuni calon anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) Daerah Pemilihan Papua melalui Partai Nasional Demokrat (NASDEM) dengan misi besarnya "Masih Ada Harapan Untuk PAPUA". Pada awal deklarasi Tim Kerja, Samuel Tabuni menyatakan sikapnya untuk memberikan pendidikan politik yang sehat dengan melawan politik uang. 
Hari ini di Indonesia, sistem politik negara ini sedang dihantui dan sudah menjadi darah daging dengan politik uang. Kemenangan itu ada di genggaman tangan kita, apabila uang itu ada. Ini sudah lama menjadi sebuah tradisi dalam politik. Entah di pesta Pilpres, Pilgub, Pilbup dan Pileg. Dan sebagian dari politikus di negara ini memandang hal itu cuma biasa saja dalam arena politik untuk meraih kemenangan.
Namun demikian, ia (ST) menyatakan sikap untuk perang melawan politik uang dan memberikan pendidikan politik sehat kepada masyarakat Papua. Sikap itu benar-benar terbukti dalam kerja-kerja tim. Sebelum dan sesudah melakukan proses pemilihan calon legislatif, transaksi suara rakyat yang katanya 'suara Tuhan' itu sudah di perdagangkan. Tawaran nilai jual suara dari 50.000; s/d 100.000.000; terus terjadi. Tawaran itupun sampai dibuktikan dengan pernyataan-pernyataan tertulis yang diterima oleh Tim kerja maupun langsung ke tangan Calegnya (ST). 
Tapi dengan sikap yang kuat, caleg yang berintegritas, dan komitmen yang hakiki dapat mengalahkan tawaran-tawaran itu. Dari proses itulah, yang kemudian Samuel Tabuni mampu memberikan pendidikan politik yang sehat. Walaupun ia (ST) kalah dalam perebutan 10 kursi di DPR RI perwakilan Dapil Papua.
Samuel Tabuni benar-benar menunjukkan kepribadiannya yang cerdas, bermartabat, berwibawa, dan berintegritas sebagai pemimpin muda Papua yang menjadi panutan generasi Papua saat ini dan masa yang akan datang. Orang Papua, entah yang muda, dewasa maupun tua harus belajar dari pola permainan politik sehat dari Samuel Tabuni. Jikalau ingin membangun Papua sesuai dengan kehendak dari pada Tuhan.

Samuel Tabuni mewakili Tokoh Muda Papua di Jakarta saat Jumpa Pers dengan Menkopolhukam (Istimewa).

ASPEK AKTIVIS MUDA PAPUA
Samuel Tabuni sebagai seorang pemimpin muda Papua. Ia (ST) lantang menyuarakan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat Papua melalui berbagai forum-forum resmi. Untuk menyuarakan berbagai kepentingan bangsa Papua. Ia (ST) mulai dari mengelolah sebuah Grup WhatsApp "The Spirit of Papua", lalu menjadi pembicara diberbagai forum untuk menyatakan kebenaran diatas Tanah Papua.
Dari berbagai permasalahan yang ia suarakan, yang saat ini lagi menjadi masalah kompleks adalah masalah pembantaian dan penyisiran masyarakat asli di Kabupaten Nduga dan gejolak besar-besaran yang kini tak berkesudahan di Papua dan Papua Barat. 
Mewakili tokoh Muda Bangsa Papua, Samuel Tabuni berani tampil dihadapan perwakilan pemerintah dan menyatakan sikap untuk menarik pasukan TNI/POLRI non organik dari Kabupaten Nduga dan Papua pada umumnya. Ia mengatakan bahwa membangun Papua tidak harus dengan pendekatan kekuatan militeralisme dan pembangunan fisik lainnya (Infrastruktur). Tapi harus mengutamakan pembangunan manusia (kemampuan SDM), kemudian bangsa Papua akan membangun dengan versi budaya Papua sendiri.
Samuel Tabuni kini tak pernah diam, tak pernah habis pikir, tak pernah fokus berpikir untuk kepentingan dirinya dan tak pernah lelah. Ia adalah seorang Pemimpin Muda Papua yang bekerja keras dalam membangun Papua dengan cara berpikir, konsep dan bertindak sesuai dinamika modern.

ASPEK PEREKONOMIAN MASYARAKAT
Dalam gerakan membangun Papua, Samuel Tabuni tidak hanya menjadi pionir pendidikan, pionir politik dan aktivis produktif. Tapi disamping itu, ia juga ikut memberikan pendampingan pengembangan ekonomi masyarakat. Walaupun ia bukan pengusaha kelas gagap atau juga tidak memiliki jabatan strategis di bidang pemerintahan. Tapi upaya untuk memberdayakan masyarakat agar mengembangkan usaha sedang ia lakukan. 
Dimulai dari usaha kios hingga peternakan. Membangun Papua memang butuh kerja sama dalam segala aspek. Entah itu aspek pendidikan, politik, ekonomi maupun pengembangan sosial budaya. Dan itu sedang dilakukan oleh sang mutiara Papua ini.

PENGABADIAN ATAS DIRINYA.
Setelah penulis membaca rekam jejak, bercerita bersama, berdiskusi, bekerja bersama dan berjalan bersama sang Mutiara Papua (SAMUEL TABUNI, SE). Dahulu saya mengidolakan Basuki T. Purnama alias AHOK sebagai pemimpin berintegritas dan kharisma tinggi di Indonesia. Tapi tidak kalah tandingnya Samuel Tabuni memberikan langsung sebuah pengaruh baru dalam diri saya. 
Saya bertemu Mutiara Papua (ST) ini disaat saya menyuarakan masalah Pertambangan Emas secara Ilegal di Korowai dan Yahukimo Tahun 2018. Saya bertemu di Kantor SiL yang waktu itu sedang kami wawancara dengan media Internasional, yaitu BBC. Selanjutnya, berapa bulan kemudian ketemu di ruang kerjanya di Papua Language Institute (PLI) di Waena. Lalu kemudian menjadi Ketua Tim Sukses Calon DPR RI Dapil Papua atas nama Samuel Tabuni di Kabupaten Yahukimo pada Tahun 2019. 
Dari kerja sama, diskusi dan berjalan bersama. Kemudian saya telah diajarkan dan saya belajar banyak terkait sejuta kelebihan yang ia (ST) miliki. Dan saya secara pribadi sangat bahagia dan bersyukur pada Tuhan. Karena Tuhan telah mempertemukan saya dengan orang yang sangat jujur, bekerja keras, loyal, penuh perhatian dan berintegritas pemimpin.

Kios SAMUEL'T di Dekai Kabupaten Yahukimo milik Panuel Maling.

Sebagai bentuk pengabadian namanya. Karena saya sudah banyak belajar dan mengenal lebih jauh. Maka sebagai seorang pemuda yang belum memiliki kapasitas, saya abadikan nama Mutiara Papua (ST) ini melalui sebuah nama Kios yang saya bikin di Dekai Kabupaten Yahukimo. Mungkin hanya lewat ini, namanya akan selalu dibaca oleh orang lain. Samuel Tabuni memang kini sudah populer, tapi ada mimpi besar dari dia yang harus dikenali dan diketahui oleh semua orang Papua.
Samuel Tabuni berharap dan berjuang, agar bangsa Papua harus merdeka dari kemiskinan pendidikan, kemiskinan perekonomian, kemiskinan kesehatan, dan kemiskinan infrastruktur.

PENUTUP
Bangsa Papua yang ingin Merdeka dari kemiskinan segala aspek, harus dan wajib belajar banyak dari sebuah mimpi, gerakan dan kerja nyata dari Sang Mutiara Papua (SAMUEL TABUNI) ini. Dari ulasan penulis diatas, telah memberikan pencerahan bahwa Samuel Tabuni layak disebut Mutiara Papua. Karena dari beberapa upayanya yang gagal, TIDAK PERNAH Kegagalan itu meredupkan karir dan eksistensinya. Ia (ST) selalu bangkit dan eksis menjadi pionir dan panutan Pemimpin Muda Papua yang disegani di Papua, Indonesia, dan di kancah Internasional. Mutiara itu sekalipun sudah dibuang ke tempat sampah atau lumpur sekalipun, ia tetap pada sifat dan fisik aslinya yaitu MUTIARA YANG MAHAL.

Terima Kasih atas karya dan keteladananmu sang Idola. Adikmu akan selalu belajar dan mengembangkan diriku serta mengabadikanmu. Tuhan selalu menjadi gadah dan tongkatmu dalam membela segala persoalan yang dihadapi bangsa Papua. Semoga mimpi besarmu memerdekakan Papua terwujud dari tangan dinginmu yang disertai hikmat Tuhan.

Terima kasih atas perhatian dan mohon maaf jika ada ulasan yang kekurangan data dan fakta. Semoga menjadi refrensi bagi bangsa Papua untuk lebih banyak belajar dari Sang Mutiara Papua ini.
TUHAN YESUS MEMBERKATI!



Penulis: PANUEL MALING
(Fans Samuel Tabuni)
Tulisan ini adalah mata, suara dan kata hati pribadiku.
Terimalah salam kebesaran saya suku UNA (UKAM) ----"TELEB"----

Friday, June 14, 2019

ANGKA KESAKITAN DAN KEMATIAN MENINGKAT DI DISTRIK BOMELA, DOA MENJADI OBAT.


Kampung Kitikni (Doc. Pr)

YAHUKIMO – Sedang meningkat angka kesakitan dan kematian di Distrik Bomela, Kabupaten Yahukimo. Sampai saat ini belum ada penanganan dari pihak medis. Kondisi ini dilaporkan oleh salah satu tenaga kesehatan dari Yayasan YAKPESMI Yawal Balyo dari Wamena setelah menerima laporan data dari Distrik Bomela lewat SSB yang dilaporkan oleh seorang kader pembantu kesehatan, kepada media nokenwene.com pada Rabu, 12 Juni 2019.

“Data yang meninggal 13 orang, sementara yang sakit 193 orang. Data ini dilaporkan oleh Oksia Maling salah satu tenaga pembantu dari Distrik Bomela melalui SSB tadi siang. Jumlah itu total keseluruhan di 6 kampung, Distrik Bomela. Jenis kesakitannya demam, menceret dan batuk” lapor Yawal.

Berdasarkan data kesakitan dan kematian yang sedang meningkat ini. Maka Dinas Kesehatan  Kabupaten Yahukimo diminta agar segera tangkap darurat sebelum kondisi ini memparah.

“Sampai sejauh ini belum ada tanggapan dari Dinas Kesehatan, dalam hal ini Kepala PUSKESMAS Distrik Bomela. Kami minta segera ada tanggapan dan menangani kondisi ini” minta Balyo.

Angka kesakitan dan kematian ini meningkat pada awal bulan ini. Karena stock obat yang ada mulai habis dan tenaga kesehatan belum ada di tempat. Kondisi ini dapat menyebabkan pasien yang mau berobat susah dijangkau dan akhirnya meninggal.

“Stock obat yang ada sedikit dan yang melayani tenaga pembantu. Sementara petugas kesehatan dan Kepala PUSKESMAS belum ada di tempat” tambahnya.

Yayasan Kristen Pelayanan Sosial Masyarakat Indonesia (YAKPEAMI) Bidang Kesehatan sebagai mitra Pemerintah siap bekerja sama dalam penerbangan. Jika pemerintah dalam hal ini Dinas Kesehatan sudah ada tanggapan untuk penanganan kondisi ini.

“kami dari gereja melalui Yayasan YAKPESMI siap mendukung dalam penerbangan MAF dalam menangani orang sakit di Distrik Bomela bekerja sama dengan Dinas terkait, kalau sudah ada konfirmasi” tandasnya.

Berhubung pelayanan medis terlambat ditangani. Maka air putih dan Doa menjadi Obat penyembuh kesakitan yang diderita masyarakat.

“untuk sementara air putih, daun gatal dan Doa menjadi Obat. Karena terlambat penangan dari pihak medis” jelasnya.
Sementara itu, salah satu warga yang tidak mau menyebutkan namanya di media ini mangatakan mereka sangat khawatir dengan adanya musibah kesakitan ini, yang mengorbankan beberapa orang dan masih banyak yang sakit. Tapi tidak ada pelayanan dan pihak medis.

“Kami masyarakat khawatir akan musibah kesakitan yang menyebabkan beberapa orang meninggal dan kesal terhadap tidak adanya tenaga kesehatan di Puskesmas Distrik Bomela” ujarnyya.

“Kalau ada tenaga medis di Bomela atau petugas kesehatan di Puskesmas Bomela, pasti pasien-pasien yang sakit dan meninggal ini bisa diobati” tambahnya.
Sampai berita ini dimuat, belum ada tim medis yang turun ke Bomela walaupun sudah konfirmasi untuk turun ke Bomela.

Penulis: Panuel Maling (JW) Nokenwene.com

Monday, September 25, 2017

HITAM & PUTIH (Aku Papua)

HITAM & PUTIH
(Aku PAPUA)
Oleh: Malin6 P


Hitam dan putih merupakan dua warna yang masing-masing mencirikan keadaan tertentu. Bahkan seringkali manusia mengartikan kedua warna tersebut dengan berbagai sudut padang. Salah satu yang lebih populer dari artian kedua warna ini adalah HITAM = Gelap dan PUTIH = Terang.
Dalam pembahasan ini, ulasannya lebih menitikberatkan pada pandangan publik terhadap kulit hitamnya Orang Asli Papua (OAP). Manusia berkulit hitam di dunia ini sudah menjamur seantero total. Namun dalam pandangan terhadap orang Papua oleh orang asli Papua maupun non Papua masih komplen terhadap kulit hitam.

ORANG ASLI PAPUA
Seiring berjalannya waktu, memasuki abad ke-19-20 muncul sebuah pemikiran yang komplen terhadap kulit hitam oleh orang asli Papua itu sendiri terhadap dirinya. Ada orang yang memang sama sekali tidak menerima kulit asli dirinya (hitam) sebagai sesuatu yang unik berkualitas dari ciptaan sang pencipta. Bebagai upaya pun dilakukan agar kulit menjadi putih dalam keadaan sadar maupun tidak sadar. Hal itu terjadi, seketika Orang Asli Papua (OAP) melihat ada orang kulit putih dari berbagai belahan dunia yang masuk ke Papua sejak zaman penginjilan (masa primitif) hingga zaman modern (masa sekarang). Entah itu ketika melihat orang Indonesia bagian barat atau pun orang asing. Perbedaan muncul dari perjumpaan yang membanding-bandingkan pembawaan warna kulitnya.
Orang Papua seolah melupakan sentuhan sang pencipta, pada hal totalitas orang Papua adalah beragama Kristen. Kristen yang artinya pengikut Kristus. Kristen diambil dari kata Christos (Kristus). Maka pada pemikirannya, totalitas pemikiran dari kehidupan manusia harus berpusat pada Kristus. Bukan hanya sebuah hiasan atau jawaban atas kolom penulisan agama di Kartu Tanda Penduduk (KTP). Orang Papua seharusnya tidak perlu mempersoalkan tentang dirinya berkulit hitam. Karena pada prinsipnya bahwa manusia berkulit hitam atau putih semuanya adalah uniknya ciptaan Tuhan. Yang harus diketahui adalah manusia merupakan ciptaan Tuhan sesuai gambar dan rupa Allah.
"Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." (Kejadian 1:26)"

           Saking komplennya, orang Papua menggunakan berbagai cara untuk mengubah kulitnya. Dimulai dari penggunaan produk-produk modern agar kulit terlihat TERANG (putih). Diprediksikan ada kemungkinan akan ganti kulit disaat lahir, ini bisa terjadi atas pandangan orang tua atau setelah anak bertumbuh dan melihat orang-orang kulit putih (kalimat ini ulasan kemungkinan).
Akhir-akhir ini muncul sebuah kata yang bertuliskan di kaos "Hitam kulit dan keriting rambut itu IDENTITAS." Tindakan lanjutan dari lagu "Hitam kulit, keriting rambut aku Papua" Edo Kondologi. Tulisan dan lagu ini merujuk pada membasmi pandangan buruk terhadap kulit hitamnya orang Papua oleh OAP maupun NOP.
Hi, orang Papua. Belajarlah memandang dan menerima kulit "HITAM" sebagai keunikan dan kualitas sang Pencipta. Sejelek-jeleknya kulit saya dan anda adalah anugerah Allah secara cuma-cuma semata. Bukan atas perbuatas baik kita (manusia) atau karena ada hubungan kekeluargaan (balas budi kebaikan manusia). Sungguh indah ciptaan sang penguasa khalik langit dan bumi.

NON ORANG PAPUA
Pandangan orang non Papua terhadap orang Papua seringkali sangat kontroversi terhadap kulit hitamnya orang Papua (tidak semua (yang gagal paham)). Saking pandangan buruknya, orang Papua dianggap sebagai manusia keturunan KERA. Pemikiran sejelek-jeleknya dipandang dan diucapkan sebagai "manusia HITAM-BLACK" (kalimat cemohoan).
Memasuki zaman modern kini, peradaban persaingan dunia kerja, kadangkala beda ras menjadi masalah kompleks. Asal usul menjadi hal yang dipersoalkan. Orang Papua tidak diterima keberadaannya di dunia kerja dimana-mana (sungguh sadis). Hal itu ditandai dengan pembunuhan sadis baik secara langsung maupun tidak langsung. Era sekarang muncul pembunuhan etnis berkulit hitam (OAP) dengan berbagai cara yang berjalan kontinyu (sistematis, terstruktur dan masif). Perlahan mulai punah ciri khas Orang Asli Papua (OAP). Beberapa tahun mendatang, hilang lenyap orang berkulit hitam.
Namun demikian, dilain sisi yang mengerti baik bahwa sehitam-hitamnya kulit orang Papua sebagai anugerah sang Pencipta dapat memberikan peluang hidup dan hidup berbaur dalam kasih dan anugerah sang Pencipta.

PANORAMA PULAU PAPUA 
 Pantai Sorendiweri Supiori - PAPUA

Jikalau mengelilingi Pulau Papua dari Sorong - Samurai. Keindahan alamnya bertolak belakang dengan pandangan-pandangan buruk terhadap penghuni Pulau Papua oleh OAP maupun NOP diatas. Perlahan mematahkan pandangan buruk terhadap insan dengan panorama Indah. Alam indah yang menggambarkan uniknya Tuhan menciptakan alam yang indah dan manusia Papua yang unik serta berkualitas. Rencana Tuhan menempatkan Orang Papua di Pulau Papua yang sangat, sangat INDAH. Bagaimana tidak, jika mengelilingi Pulau Papua akan dijumpai tanda heran yang satu ke tanda heran yang lain dari pancaran pesona indahnya Pulau Papua.
Pulau Papua yang unik itu, ditandai dengan adanya gunung yang menjulang tinggi dan bersalju, lembah yang subur, daratan yang sulit ditelusuri indahnya, dan lautan nan biru yang memberikan harapan hidup (citra cerahnya masa depan Papua).
Saking indahnya Pulau Papua, orang-orang dari berbagai belahan dunia pun berdatangan dengan berbagai misi. Ada yang berwisata, ada yang tinggal menetap dan ada misi buruknya adalah menguasai totalitas keindahan Pulau Papua. Pulau Papua selain menyediakan destinasi wisata yang unik bagi pengunjung domestik maupun manca Negara. Pulau Papua juga menyediakan kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang menjanjikan ketangguhan ekonomi dunia. Kebutuhan pokok manusia pun disediakan secara alami oleh Tuhan di Pulau Papua. Kelangsungan hidup dan pemberdayaan ekonomi dunia akhir-akhir ini berpusat pada SDA Pulau Papua. Saking kayanya Pulau Papua, juga menciptakan konflik horizontal yang kompleks antar individu maupun negara-negara. Sampai detik penulis menulis artikel ini, masalahnya belum juga tuntas diselesaikan. Permasalahannya kini masuk ke rengking dunia. Berbagai perjuangan dilakukan dengan berbagai misi, baik itu oleh ORANG ASLI PAPUA dengan misi Free West Papua (FWP), maupun oleh negara-negara yang berkepentingan terhadap SDA Pulau Papua, sebut saja negara-negara tersebut adalah Indonesia, USA, Australia, Inggris, Rusia, dll.
Dimanakah hati manusia dunia untuk membangun dan memperdayakan Orang Asli Papua? sebuah pertanyaan yang seringkali muncul dalam pikiran kecil kaum terkecil (penghuni Pulau Papua).

KESIMPULAN
Orang Asli Papua (OAP) harus sadari bahwa, hitam kulit adalah merupakan anugerah Allah yang mencirikan keunikan dan kualitas Tuhan menciptakan manusia sesuai gambar dan rupa diri-Nya. Sejatinya Orang Papua mensyukuri akan karya-Nya. Dengan melakukan berbagai percobaan, tak akan pernah berubah identitas (ras) orang Papua. Tuhan yang menciptakan dan Tuhan pula yang melindungi, takkan satu pun dahan yang jatuh, jikalau itu bukan kehendak-Nya.
Non Orang Papua (NOP) harus sadari bahwa, hitam kulit dan keriting rambut Orang Papua adalah identitas yang memberikan keunikan dalam perbedaan. Sudah tidak selayaknya manusia dipandang setara hewan. Siapa pun anda yang memandang Orang Papua sebagai manusia keturunan KERA, sesungguhnya ANDA-lah yang mencerminkan sifat dan karakter si KERA itu sendiri. Siapa pun anda yang menghujat Orang Papua sebagai manusia "Hitam-BLACK", sesungguhnya ANDA-lah yang berhati hitam (black) yang tidak mampu melihat uniknya Tuhan menciptakan manusia. Andalah yang gagal paham akan rencana dan kehendak Tuhan menciptakan manusia sesuai gambar dan rupa-Nya. Terpujilah Tuhan, sebab diantara sedikit orang yang membenci sejeleknya-jeleknya kulit hitam orang Papua. Sebagian besar manusia (penghuni seantero dunia) yang melihat adanya campur tangan Tuhan dalam menciptakan Orang Papua. Sehingga kehidupannya ditandai dengan hidup berbaur dalam satu kasih Tuhan.
Pulau Papua yang indah mencerminkan adanya keunikan dan kualitas Tuhan menciptakan langit dan bumi. Orang Papua jangan berbangga diri memiliki kekayaan dan keunikan Pulau Papua tanpa mengakui hebatnya (dashyatnya Tuhan) dalam menciptakan Langit dan Bumi. Kalau bukan Tuhan yang menciptakan manusia Papua dan Pulau Papua, berarti itu bukan Orang Papua dan bukan pula Pulau Papua. Orang Papua harus belajar takluk di hadirat-Nya yang berkuasa atas segala ciptaan-Nya.
Semoga Artikel ini bermanfaat bagi Orang Papua. Mohon dimaafkan jikalau dalam ulasan artikel ini menyingkung perasaan para pembaca sekalian.
Soli Deo Gloria.

Tuesday, August 15, 2017

JAWABAN MIMPI SANG AYAH/TETE (Alm. Yansaiya Maling)

Oleh: M Panuel, ST


 "Ne sica nimnya obda, wenebda kimnangi kuransya ate sunda nimnya eteren neng akuk dansekandarur" pesan sang ayah/tete (Yansaiya Maling, Desember 2007)

Sebelum Injil masuk di lembah Sain (Distrik Bomela), peperangan antar marga dan antar kampung menjadi suatu kebiasaan sehari-hari. Pemikirian keberadaan manusia di belahan dunia yang lain tertutup hasrat gelap gulita. Daya berpikir yang jauh lebih baik sudah tidak ada di zaman itu. Yang ada saat itu adalah mementingkan keegoisan marga dan kampung. Peperangan merupakan tolak ukur siapa yang kuat (dari aspek taktik, jumlah anggota (prajurit)), siapa yang hebat berperang dan lain sebagainya. Dalam kondisi ini, tidak ada yang namanya KENYAMANAN dan KEAMANAN menjalani hidup sepanjang sejarah kehidupan.

Meski demikian, pelita Injil menelurusuri lembah ini. Dan pada pilihannya menjemput Injil (Kabar Keselamatan) di Pass-Valley dari perwakilan kampung KITIKNI adalah ayah kami (Yansaiya Maling). Orang yang merupakan kepala perang sebelum injil masuk. Penunjukkan ini merupakan keputusan bersama maupun kesediaan serta kerinduan akan perdamaian saat itu. Ayah kami menjadi pelopor dalam masuknya Injil di wilayah Klasis Bomela. 6 (enam) orang berangkat ke Pass-Valley menjemput Injil setelah survey penginjilan dilakukan di Bomela oleh Pdt. Gerrit Kuijt dan penginjil-penginjil.
Dengan demikian, seiring berjalannya waktu, satu per satu dari kami keluar berpendidikan. Dimulai dari anak tunggal hingga kini cucu-cucunya mengikuti jejak. Itulah sebabnya, kami tentunya menyadari bahwa berkat Injil harus bersinar menelusuri gelap semesta. Meskipun dalam kehidupan kami sering mengecewakan sesama kami (manusia) dan terhadap Tuhan dengan perkataan dan perbuatan yang tidak terpuji. Tapi itu sebagai manusia tidak luput dari perbuatan buruk. Kami tetap mensyukuri akan berkat Tuhan sebagaimana adanya. Tuhan itu baik, sehingga kami masih melangkah dan akan terus melangkah, hingga pada puncaknya nanti.
Berikut daftar nama keluarga kami yang mengenyam pendidikan diberbagai jenjang sesuai urutan tahun tamat (selesai):
1. Pdt. Nebius Maling, S.Th (STT John Calvin - Bali)
2. Ananias Maling, S.Pd (Universitas Cendrawasih Jayapura)
3. Mertina Maling (Alm) SMP YPK HEDAM, Abepura 1997
4. Anius Maling, S.IP (USTJ Jayapura)
5. Panuel Maling, ST (USTJ Jayapura)
6. Mina Maling, Amd.Par (Akparis '45 Jayapura)
7. Nerius Maling, S.STP (IPDN - Bandung)
8. Christina Maling, S.Kom (STIKOM Jayapura)
9. Gike Maling (STTR Wamena, Jurusan PAK)
10. Martha Maling (Istri Penginjil Almarhum Esab Urban)
Anak-anak masih dalam bangku TK-SMA.

Ini merupakan sebuah kebanggaan atas anugerah Tuhan melalui kerinduan perdamaian sang ayah kami. Jika Injil tidak masuk di daerah kami, kami bukan siapa-siapanya hidup ini. Oleh sebab itu, kami selalu bersyukur atas campur tangan Tuhan sehingga langkah demi langkah kami menggapai mimpi ayah/tete kami.

Nasihat dan pesan itu akan ada selalu dimana pun kami berada. Terima kasih Ayah kami!
Soli Deo Glory!!

Wednesday, April 12, 2017

Penjualan Kaos I LOVE LABOSU (LAngda BOmela SUmtamon)


Sedang menerima pesanan untuk cetak kaos I LOVE LABOSU (LAngda BOmela SUmtamon). Yang berminat mendapatkan kaos ini hubungi via Hanphone: 081240416975; atau WA: 081315892397; a.n Panuel Maling (penanggung jawab). Kontribusi anda dengan membeli kaos memajukan aspek pendidikan di daerah. Termasuk promosikan daerah LABOSU yang tergolong 3T berdasarkan data IPD 2016 Republik Indonesia.
Ayo buruan, sebelum terlambat1

Sunday, April 9, 2017

UNA ITU KAMI (Langda Bomela Sumtamon)





Buat bro and sist, kaka dan ade, Bapa dan mama yang mau beli kaos UNA ITU KAMI (Langda Bomela, Sumtamon) sampai saat ini stock masih tersedia. Sehingga anda bisa hubungi via nomor kontak berikut ini : 081240416975/ WA : 081315892397. Kaos yang tersedia Size L & XL. Warna hitam dan putih. Anda yg sdh pesan tapi habis stock jangan kecewa juga, karena akan ada cetakan berikut yang nantinya anda sdh masuk dalam daftar pelanggan kami.
Ayo, buruan sebelum ayam keterlambatan berkokok... Hanya kamu yg belum dapat ni..