Wednesday, June 30, 2021

HONAIKU ADALAH ISTANAKU

Oleh: Panuel Maling
Ketua Komunitas Seni dan Budaya Suku UNA (KSB-UNA) Kabupaten Yahukimo

Honai yang dalam bahasa daerah Suku UNA disebut “AI” adalah tempat tinggal manusia. Secara turun temurun, honai dibagi menjadi ada 2 (dua) jenis, yaitu honai laki-laki yang biasa disebut “Youwa” dan honai perempuan yang biasa disebut “Diba”. Honai laki-laki dalam satu kampung biasa terdiri atas 5-6 honai sesuai jumlah kepadatan penduduk khusus laki-laki. Sedangkan honai perempuan disesuaikan dengan jumlah kepala keluarga dalam satu kampung tersebut. Setiap anak laki-laki, jika sudah berkeluarga, wajib membangun honai perempuan sendiri dan tidak bisa tinggal bersama dengan orang tua.
Secara administratif kampung/Desa Kitikni terletak di Distrik Bomela, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua. Secara geografis terletak pada: 4040’32.68” Lintang Selatan dan 139053’43.43” Bujur Timur. Kampung Kitikni terletak pada ketinggian 1.810 mdpl. Kampung Kitikni termasuk kampung yang tertinggal dari kemajuan, rata-rata mata pencaharian masyarakat setempat adalah berkebun. Kampung Kitikni termasuk salah satu kampung di pedalaman Papua yang masyarakatnya hidup dibawah garis kemiskinan, tapi tetap lestarikan budaya honai. Honai laki-laki di kampung Kitikni terdiri atas 6 (enam) honai laki-laki, yaitu Mintal duwa; Omok duwa; Ina duwa; Bam duwa; Manga duwa; dan Turun duwa. Sedangkan honai perempuan di kampung Kitikni ada 69 honai perempuan. Kampung Kitikni masyarakat masih lestarikan honai adat sebagai tempat hunian secara turun-temurun.
Secara budaya, honai laki-laki biasanya dihuni hanya oleh laki-laki dan perempuan tidak bisa masuk sembarang dengan alasan apapun. Honai laki-laki dijaga secara khusus sebagai tempat sakral. Ada beberapa fungsi honai laki-laki adalah tempat musyawarah laki-laki dalam merancang strategi perang antarkampung maupun antarsuku; merancang strategi kegiatan atau acara-acara adat (Mouwa); tempat tinggal atau menginap khusus laki-laki; tempat terima tamu khusus laki-laki dari daerah lain dan atau kampung lain; tempat pendidikan adat anak laki-laki (inisiasi) sebelum terjun ke dunia perang; dan tempat menyimpan alat-alat budaya seperti panah, busur, pakaian adat, noken, bulu cendrawasih dan hiasan lainnya yang biasa dipakai dalam medan perang dan acara-acara adat lainnya. Keunikan dari honai laki-laki adalah honai laki-laki dipandang sebagai ciri khas kampung tersebut, karena dihuni oleh beberapa marga dari penduduk kampung tersebut; halaman honai laki-laki harus bersih dari sampah; bebas dari keramaian anak-anak kecil dalam halaman; bebas dari peliharaan ternak; tempat pusat pelaksanaan acara-acara adat; masalah antarwarga kampung harus diurus dan diselesaikan secara damai di halaman honai laki-laki; serta kegiatan-kegiatan dalam kampung tersebut harus diselenggarakan di depan halaman honai laki-laki tanpa terkecuali. Kemudian honai laki-laki (Youwa) biasa diberi nama sesuai dengan asal-usul, kisah hidup dan secara masa lalu penghuni laki-laki dalam honai laki-laki itu. Perlakuan istimewa honai laki-laki secara budaya ini layaknya disebut istana mini, yang diwariskan secara turun-temurun.
Sedangkan honai perempuan dihuni khusus oleh perempuan dalam satu keluarga. Honai perempuan tidak diberi nama seperti honai laki-laki, karena tidak mempunyai sejarah penting berdasarkan nilai kebudayaan masyarakat setempat. Secara budaya, laki-laki (suami, anak laki-laki maupun tamu laki-laki dari kampung lain), tidak bisa menginap di honai perempuan. Di honai perempuan, laki-laki hanya makan bersama keluarga, menerima tamu keluarga, dan acara-acara keluarga lainnya. Makanan laki-laki biasa dikhususkan oleh ibu-ibu, yang selanjutnya laki-laki (suami/anak-anak laki-laki) mau makan bersama keluarga di honai perempuan atau bawa ke honai laki-laki untuk makan itu kewenangan mutlak laki-laki. Di honai perempuan, selain berfungsi sebagai tempat tinggal perempuan; terima tamu; dan aktifitas kekeluargaan; honai perempuan juga sebagai tempat pelihara ternak khusus babi peliharaan. Karena secara budaya, siapa yang tidak memelihara babi dalam rumah, dia termasuk kategori orang miskin dari kampung tersebut. Standar penilaian ini sudah sejak dahulu kala, sehingga wajib ada pelihara babi dalam rumah/honai perempuan. Dan itu tidak biasa bangun kandang ternak babi sendiri. Hal ini tidak termasuk dengan budaya di Papua lain yang mengakui seorang kepala suku yang adalah mereka yang mempunyai harta kekayaan banyak. Di suku Una, pengakuan terhadap seseorang sebagai kepala suku berdasarkan latar belakang sebagai kepala perang era dulu. Yang kemudian dapat diwariskan kepada anak tunggalnya di masa kini, jikalau anaknya itu mampu memimpin masyarakat. Secara budaya, seorang kepala suku berpenghuni tetap di honai laki-laki yang dianggap honai laki-laki ternama di kampung itu. Di kampung Kitikni, ada seorang kepala suku bernama Yansaiya Maling yang biasanya tinggal di honai laki-laki bernama Omok duwa. Omok adalah salah satu pohon yang biasa digunakan oleh masyarakat untuk membangun honai laki-laki Omok duwa.
Bahan-bahan untuk bikin honai tidak sembarangan, ada beberapa bahan yang menjadi pilihan masyarakat kampung Kitikni yaitu pohon tiang penyangga berupa kayu besi dalam bahasa daerah, seperti yukan, kikwe, manga, omok, katan, lakwe dan uw; daun atap rumah (car) dan mek bol untuk penahan bagian bawah atap; tali rotan (toker); bahan untuk alas lantai (kun) khusus untuk honai laki-laki dan yakli bol khusus untuk alas lantai honai perempuan. Untuk bahan alas lantai honai laki-laki tidak bisa dibikin pakai yakli bol atau juga sebaliknya honai perempuan. Pemilihan bahan-bahan dan persiapan bahan biasa dilakukan oleh orang dewasa, sementara angkutan biasanya dilakukan oleh laki-laki dewasa dan anak-anak muda laki-laki. Anak-anak muda laki-laki secara mandiri sendiri bisa ikuti langkah-langkah pembangunan honai, apabila sudah belajar dari orang dewasa. Kemudian ambil daun khusus untuk atap honai (Car) diambil oleh perempuan. Daun yang biasa digunakan untuk atap honai adat khusus suku Una adalah Car, sejenis daun bandang dan bukan alang-alang. Pemilihan bahan-bahan bangunan ini dilakukan dengan alasan untuk menjaga kualitas rumah, daya ketahanan rumah dan daya tampung beban. Tiga hal ini merupakan aspek utama untuk mengukur dan menentukan waktu tahan lama, yang biasanya, bertahan 20-30 tahun lamanya. Honai biasa dibangun diatas tanah yang kering dan rata permukaan tanah.
Ada beberapa tahapan-tahapan yang biasa dilakukan sebagai proses pembangunan honai, yaitu tahap persiapan bahan-bahan 2 (dua) minggu, tahap angkutan bahan-bahan dari tempat persiapan ke perkampungan 1 (satu) minggu dan tahap pembangunan 1 (satu) hari. Tahap pembangunan biasa satu hari, karena dibangun secara bergotong-royong oleh khusus laki-laki dewasa dari kampung tersebut. Dahulu, pembangunan honai laki-laki (Youwa) ditandai dengan tarian khas daerah Suku Una, yaitu tarian ular (Limna Mot). Tarian ular (Limna Mot) itu biasa sepanjang malam (12 jam) sebelum bongkar honai laki-laki untuk dibangun kembali. Pada saat bongkar dan bangun honai, harus ada acara masak tradisionl yang lazim terkenal bakar batu (Kwalina Sirik) sebagai budaya orang asli Pegunungan Tengah Papua. Masakan bakar batu merupakan sebuah tradisi masyarakat dalam acara-acara adat sebagai warisan nenek moyang. Karena makan bersama harus dari masakan bakar batu (Kwalina Sirik). Sampai sejauh ini, budaya masakan bakar batu masih terlestarikan.
Bentuk honai secara budaya di suku Una adalah berbentuk kerucut meruncing ke atas. Tinggi honai laki-laki adalah 2 ½ meter, lebar dari tunggu api ke tiang penyangga adalah 2 meter keliling melingkar. Sedangkan tinggi honai perempuan adalah 2 meter, lebar dari tunggu api ke tiang penyangga adalah 1.60 meter. Dalam honai laki-laki maupun perempuan dibuat rak-rak untuk menyimpan alat-alat budaya untuk di honai laki-laki dan kelengkapan rumah serta alat budaya untuk honai perempuan. Dalam honai laki-laki terdapat tempat taruh kayu (basuna) satu deret dengan terdapat 4 (empat) tiang penyangga; sedangkan di honai perempuan dibuat minimal 3 (tiga) deret tempat taruh kayu (basuna) dengan terdapat 4 (empat) tiang penyangga. Honai laki-laki terdapat 1 (satu) pintu keluar masuk; sedangkan honai perempuan terdapat 2 (dua) pintu, yang satunya pintu keluar-masuk manusia dan yang satunya pintu keluar-masuk ternak babi. Bentuk dan ukuran honai ini sudah berstandar dan dilestarikan dari dulu hingga sekarang. Rumah asli honai laki-laki (Youwa) maupun honai perempuan (Diba) tidak terdapat ventilasi udara. Tidak ada ventilasi pada honai beralasan agar terhindar dari serangan musuh saat perang antarkampung/antarsuku pada zaman dahulu; tapi hingga kini bentuk rumah itu masih terpelihara walaupun sudah tidak ada perang-perangan. Selain itu, tidak adanya ventilasi rumah karena terhindar dari angin (kedinginan). Karena letak perkampungan di pegunungan yang suhu rata-rata dingin. Suku Una terletak di pegunungan yang ketinggian rata-rata 1.000-3.000 mdpl. Kemudian, dalam honai laki-laki (Youwa) maupun honai perempuan (Diba) bikin api (uk) dalam honai yang tidak boleh padam, kecuali tidak ada orang. Di tengah-tengah honai terdapat tunggu api, yang setiap malam saat tidur mengelilingi tunggu api tersebut. Api berfungsi untuk bakar ubi (Kwaning Kwetena), masak sayur, tapi juga untuk menghangatkan rumah saat tidur malam hari agar tidak kedinginan.
Hingga kini, bentuk honai, jenis honai, fungsi honai laki-laki (Youwa) dan honai perempuan (Diba), serta kebiasaan pemilihan bahan-bahan bangunan honai masih terpelihara sebagai bagian dari warisan budaya yang dilestarikan secara turun-temurun. Fungsi honai laki-laki yang tidak dilestarikan saat ini adalah pendidikan adat (inisiasi) bagi anak-anak muda. Karena pendidikan adat (inisiasi) dilakukan pada zaman dahulu sebagai sekolah adat persiapan generasi muda yang terampil secara mental dan cara-cara teknis dalam medan perang antarkampung dan/atau perang antarsuku. Pendidikan adat kini tidak dilestarikan karena sudah tidak ada perang-perangan, dan sistem pendidikan sudah tergantikan sekarang dengan adanya penyelenggaraan pendidikan formal. Fungsi lainnya yang masih terpelihara hingga kini, walaupun ada perubahan-perubahan dengan dinamika modern, pengaruh modern tidak mempengaruhi kelestarian budaya pembangunan honai serta fungsi honai. Di kampung Kitikni, semua honai masih terdapat honai adat, bahkan secara umum di suku Una masih lestarikan honai adat.
Ada beberapa alasan honai adat tetap dilestarikan oleh masyarakat kampung Kitikni adalah melestarikan nilai-nilai budaya; kebiasaan hidup masyarakat kampung Kitikni yang nyaman tinggal di honai; hidup di honai sangat cocok dengan kondisi iklim di kampung Kitikni; kualitas honai; daya tahan beban dan daya tahan yang lama sangat baik; serta masyarakat kampung Kitikni yang muda mendapatkan bahan-bahan bangunan. Serta budaya luar belum merampat masuk di kampung Kitikni untuk merubah tatanan kehidupan masyarakat yang terlestarikan secara turun temurun.

Kata kunci: Honai (Ai), Honai Laki-Laki (Youwa), Honai Perempuan (Diba)