Monday, September 25, 2017

HITAM & PUTIH (Aku Papua)

HITAM & PUTIH
(Aku PAPUA)
Oleh: Malin6 P


Hitam dan putih merupakan dua warna yang masing-masing mencirikan keadaan tertentu. Bahkan seringkali manusia mengartikan kedua warna tersebut dengan berbagai sudut padang. Salah satu yang lebih populer dari artian kedua warna ini adalah HITAM = Gelap dan PUTIH = Terang.
Dalam pembahasan ini, ulasannya lebih menitikberatkan pada pandangan publik terhadap kulit hitamnya Orang Asli Papua (OAP). Manusia berkulit hitam di dunia ini sudah menjamur seantero total. Namun dalam pandangan terhadap orang Papua oleh orang asli Papua maupun non Papua masih komplen terhadap kulit hitam.

ORANG ASLI PAPUA
Seiring berjalannya waktu, memasuki abad ke-19-20 muncul sebuah pemikiran yang komplen terhadap kulit hitam oleh orang asli Papua itu sendiri terhadap dirinya. Ada orang yang memang sama sekali tidak menerima kulit asli dirinya (hitam) sebagai sesuatu yang unik berkualitas dari ciptaan sang pencipta. Bebagai upaya pun dilakukan agar kulit menjadi putih dalam keadaan sadar maupun tidak sadar. Hal itu terjadi, seketika Orang Asli Papua (OAP) melihat ada orang kulit putih dari berbagai belahan dunia yang masuk ke Papua sejak zaman penginjilan (masa primitif) hingga zaman modern (masa sekarang). Entah itu ketika melihat orang Indonesia bagian barat atau pun orang asing. Perbedaan muncul dari perjumpaan yang membanding-bandingkan pembawaan warna kulitnya.
Orang Papua seolah melupakan sentuhan sang pencipta, pada hal totalitas orang Papua adalah beragama Kristen. Kristen yang artinya pengikut Kristus. Kristen diambil dari kata Christos (Kristus). Maka pada pemikirannya, totalitas pemikiran dari kehidupan manusia harus berpusat pada Kristus. Bukan hanya sebuah hiasan atau jawaban atas kolom penulisan agama di Kartu Tanda Penduduk (KTP). Orang Papua seharusnya tidak perlu mempersoalkan tentang dirinya berkulit hitam. Karena pada prinsipnya bahwa manusia berkulit hitam atau putih semuanya adalah uniknya ciptaan Tuhan. Yang harus diketahui adalah manusia merupakan ciptaan Tuhan sesuai gambar dan rupa Allah.
"Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." (Kejadian 1:26)"

           Saking komplennya, orang Papua menggunakan berbagai cara untuk mengubah kulitnya. Dimulai dari penggunaan produk-produk modern agar kulit terlihat TERANG (putih). Diprediksikan ada kemungkinan akan ganti kulit disaat lahir, ini bisa terjadi atas pandangan orang tua atau setelah anak bertumbuh dan melihat orang-orang kulit putih (kalimat ini ulasan kemungkinan).
Akhir-akhir ini muncul sebuah kata yang bertuliskan di kaos "Hitam kulit dan keriting rambut itu IDENTITAS." Tindakan lanjutan dari lagu "Hitam kulit, keriting rambut aku Papua" Edo Kondologi. Tulisan dan lagu ini merujuk pada membasmi pandangan buruk terhadap kulit hitamnya orang Papua oleh OAP maupun NOP.
Hi, orang Papua. Belajarlah memandang dan menerima kulit "HITAM" sebagai keunikan dan kualitas sang Pencipta. Sejelek-jeleknya kulit saya dan anda adalah anugerah Allah secara cuma-cuma semata. Bukan atas perbuatas baik kita (manusia) atau karena ada hubungan kekeluargaan (balas budi kebaikan manusia). Sungguh indah ciptaan sang penguasa khalik langit dan bumi.

NON ORANG PAPUA
Pandangan orang non Papua terhadap orang Papua seringkali sangat kontroversi terhadap kulit hitamnya orang Papua (tidak semua (yang gagal paham)). Saking pandangan buruknya, orang Papua dianggap sebagai manusia keturunan KERA. Pemikiran sejelek-jeleknya dipandang dan diucapkan sebagai "manusia HITAM-BLACK" (kalimat cemohoan).
Memasuki zaman modern kini, peradaban persaingan dunia kerja, kadangkala beda ras menjadi masalah kompleks. Asal usul menjadi hal yang dipersoalkan. Orang Papua tidak diterima keberadaannya di dunia kerja dimana-mana (sungguh sadis). Hal itu ditandai dengan pembunuhan sadis baik secara langsung maupun tidak langsung. Era sekarang muncul pembunuhan etnis berkulit hitam (OAP) dengan berbagai cara yang berjalan kontinyu (sistematis, terstruktur dan masif). Perlahan mulai punah ciri khas Orang Asli Papua (OAP). Beberapa tahun mendatang, hilang lenyap orang berkulit hitam.
Namun demikian, dilain sisi yang mengerti baik bahwa sehitam-hitamnya kulit orang Papua sebagai anugerah sang Pencipta dapat memberikan peluang hidup dan hidup berbaur dalam kasih dan anugerah sang Pencipta.

PANORAMA PULAU PAPUA 
 Pantai Sorendiweri Supiori - PAPUA

Jikalau mengelilingi Pulau Papua dari Sorong - Samurai. Keindahan alamnya bertolak belakang dengan pandangan-pandangan buruk terhadap penghuni Pulau Papua oleh OAP maupun NOP diatas. Perlahan mematahkan pandangan buruk terhadap insan dengan panorama Indah. Alam indah yang menggambarkan uniknya Tuhan menciptakan alam yang indah dan manusia Papua yang unik serta berkualitas. Rencana Tuhan menempatkan Orang Papua di Pulau Papua yang sangat, sangat INDAH. Bagaimana tidak, jika mengelilingi Pulau Papua akan dijumpai tanda heran yang satu ke tanda heran yang lain dari pancaran pesona indahnya Pulau Papua.
Pulau Papua yang unik itu, ditandai dengan adanya gunung yang menjulang tinggi dan bersalju, lembah yang subur, daratan yang sulit ditelusuri indahnya, dan lautan nan biru yang memberikan harapan hidup (citra cerahnya masa depan Papua).
Saking indahnya Pulau Papua, orang-orang dari berbagai belahan dunia pun berdatangan dengan berbagai misi. Ada yang berwisata, ada yang tinggal menetap dan ada misi buruknya adalah menguasai totalitas keindahan Pulau Papua. Pulau Papua selain menyediakan destinasi wisata yang unik bagi pengunjung domestik maupun manca Negara. Pulau Papua juga menyediakan kekayaan Sumber Daya Alam (SDA) yang menjanjikan ketangguhan ekonomi dunia. Kebutuhan pokok manusia pun disediakan secara alami oleh Tuhan di Pulau Papua. Kelangsungan hidup dan pemberdayaan ekonomi dunia akhir-akhir ini berpusat pada SDA Pulau Papua. Saking kayanya Pulau Papua, juga menciptakan konflik horizontal yang kompleks antar individu maupun negara-negara. Sampai detik penulis menulis artikel ini, masalahnya belum juga tuntas diselesaikan. Permasalahannya kini masuk ke rengking dunia. Berbagai perjuangan dilakukan dengan berbagai misi, baik itu oleh ORANG ASLI PAPUA dengan misi Free West Papua (FWP), maupun oleh negara-negara yang berkepentingan terhadap SDA Pulau Papua, sebut saja negara-negara tersebut adalah Indonesia, USA, Australia, Inggris, Rusia, dll.
Dimanakah hati manusia dunia untuk membangun dan memperdayakan Orang Asli Papua? sebuah pertanyaan yang seringkali muncul dalam pikiran kecil kaum terkecil (penghuni Pulau Papua).

KESIMPULAN
Orang Asli Papua (OAP) harus sadari bahwa, hitam kulit adalah merupakan anugerah Allah yang mencirikan keunikan dan kualitas Tuhan menciptakan manusia sesuai gambar dan rupa diri-Nya. Sejatinya Orang Papua mensyukuri akan karya-Nya. Dengan melakukan berbagai percobaan, tak akan pernah berubah identitas (ras) orang Papua. Tuhan yang menciptakan dan Tuhan pula yang melindungi, takkan satu pun dahan yang jatuh, jikalau itu bukan kehendak-Nya.
Non Orang Papua (NOP) harus sadari bahwa, hitam kulit dan keriting rambut Orang Papua adalah identitas yang memberikan keunikan dalam perbedaan. Sudah tidak selayaknya manusia dipandang setara hewan. Siapa pun anda yang memandang Orang Papua sebagai manusia keturunan KERA, sesungguhnya ANDA-lah yang mencerminkan sifat dan karakter si KERA itu sendiri. Siapa pun anda yang menghujat Orang Papua sebagai manusia "Hitam-BLACK", sesungguhnya ANDA-lah yang berhati hitam (black) yang tidak mampu melihat uniknya Tuhan menciptakan manusia. Andalah yang gagal paham akan rencana dan kehendak Tuhan menciptakan manusia sesuai gambar dan rupa-Nya. Terpujilah Tuhan, sebab diantara sedikit orang yang membenci sejeleknya-jeleknya kulit hitam orang Papua. Sebagian besar manusia (penghuni seantero dunia) yang melihat adanya campur tangan Tuhan dalam menciptakan Orang Papua. Sehingga kehidupannya ditandai dengan hidup berbaur dalam satu kasih Tuhan.
Pulau Papua yang indah mencerminkan adanya keunikan dan kualitas Tuhan menciptakan langit dan bumi. Orang Papua jangan berbangga diri memiliki kekayaan dan keunikan Pulau Papua tanpa mengakui hebatnya (dashyatnya Tuhan) dalam menciptakan Langit dan Bumi. Kalau bukan Tuhan yang menciptakan manusia Papua dan Pulau Papua, berarti itu bukan Orang Papua dan bukan pula Pulau Papua. Orang Papua harus belajar takluk di hadirat-Nya yang berkuasa atas segala ciptaan-Nya.
Semoga Artikel ini bermanfaat bagi Orang Papua. Mohon dimaafkan jikalau dalam ulasan artikel ini menyingkung perasaan para pembaca sekalian.
Soli Deo Gloria.

No comments:

Post a Comment