Naten Sunyap,S.s
Salah satu dari >1000 alumni SD YPK Bomela
mengenyam ilmu di negara rusa – Australia. Dia adalah “Natan Sunyap, S.s” yang saat ini menjadi Mahasiswa InternationalPasific University. Natan yang juga alumni jurusan sastra di
Universitas Veteran Makassar – Sulawesi Selatan ini membuka lembaran baru
bintang-bintang fajar timur bersinar mengikuti jejak sang pelopor ini. Lahir di
desa terpencil dan terisolir tidak menjauh dari ruang dan waktu dalam berpikir
kompetitif dan terus melangkah. Motivasi tinggi untuk terus belajar dan
melangkah menjadi modal dalam mengarungi dunia pendidikan ke jenjang atas di
negara yang penuh tantangan dari berbagai aspek kemajuan.
Sifat dasar yang ramah, mudah tersenyum dan
bergaul dengan tanpa pandang bulu ini mengantar anak muda yang suka berpikir
global ini menuju negara yang penuh misteri belahan bumi bagian selatan.
Sebagai sesama alumni SD YPK Bomela tentu kita bangga karena berawal sebuah
keinginan untuk mengenyam pendidikan, akhirnya juga terus mendunia. Mungkin
dalam alam berpikir kalangan atas memandang hal ini biasa-biasa saja. Tapi bagi
kami hal ini sangat luar biasa. Karena sebagai anak pertama dari Desa Yalmebi,
Distrik Bomela dan organisasi Gereja Jemaat Reformasi Papua (GJRP) yang
mengenyam pendidikan di New Zeland – Australia.
“Sejarah itu dilakukan oleh orang-orang yang ingin melakukan
sejarah dalam hidupnya”. Alumni SD YPK Bomela tentunya memiliki
kualitas yang mumpuni untuk bersaing dengan orang lain. Hal itu dibuktikan
dengan mutu lulusan di berbagai pendidikan tinggi yang dapat diperhitungkan.
Bahkan sampai ada yang mengenyam pendidikan hingga Strata Dua (S.2), yakni Esap Aruman, SE,.MM (Alm) Kepala
Distrik Weime Kabupaten Pegunungan Bintang.
Dan masih banyak lagi sarjana yang saat ini diperhitungkan mutu kerja
diberbagai bidang dan berbagai tempat kerja. Sungguh indah! Itulah sebuah
kalimat yang layak diucapkan.
Generasi sekarang adalah generasi emas
menduduki bintang-bintang di langit. Bermimpi untuk menduduki bulan tapi apa
daya tak sampai. Cukuplah menghiasi dunia ini dengan warna-warni
bintang-bintang di langit. Sengit dan canggihnya kemajuan Ilmu Pengetahuan dan
Teknologi (IPTEK) menantang setiap orang untuk bersaing melangkah maju. “Orang-orang yang menguasai teknologi dan
informasi yang menguasai dunia” ~Dr.Onesimus
Sahuleka, SH,.M.Hum~ (Rektor Universitas Cenderawasih). Kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi tidak hanya mengubah pola pikir manusia, tapi juga
bergeser pola hidup manusia yang statis. Kehidupan manusia sebenarnya adalah
dinamis dan bagaikan roda mobil. Yang mana sedetik ada diatas dan sedetik pula
ada di bawah. Filosofi ini menggambarkan tentang pandangan buruk antara tidak
bisa dan bisa. Kebiasaan yang buruk mulai terbangun diantara masyarakat atau
kalangan berintelektual tinggi. Mereka berpikir bahwa mereka yang berada di
ambang atas tetap dan mereka yang berada di ambang bawah tetap. Ini adalah
konsep berpikir yang melangkah mundur. Semua kalangan mempunyai kesempatan yang
sama. Semua orang pasti merubah pola hidup yang tidak berkembang. Pendidikan
merupakan salah satu alat peraka dalam mengubah paradigma pasif tersebut. Pola
berpikir yang konstruktif itu lahir dari kalangan yang berpendidikan.
Dimulai dari langkah yang kecil dan
sederhana, perjalanan itu terus mengantarkan kami menuju dunia yang besar.
Itulah sebabnya banyak orang berkata bahwa, mulailah berpikir dan melakukan
hal-hal kecil. Karena tanpa kita sadari hal-hal itu akan membawa kita ke dunia
yang besar. Sejenak merenung kisah perjalanan lulusan (sarjana muda) 2014-2015
itu meninggalkan berbagai rekam jejak yang tak mungkin kami lupakan. Dimulai
dari persekutuan P2MB, Sekolah Minggu, PAM, komunitas berdoa bersama
orang-orang hebat dari Negeri gincir angin (Netherlands) dan kebersamaan dimana
kami berada ketika di Wamena. Beberapa sarjana yang lulus pada tahun 2014-2015,
yakni : Kileon Aluwa, SH;Natan Sunyap,
S.s; Daud Aluwa, S.Pd; Ebdon Maling, S.Pd; Panuel Maling, ST; Onesimus Aluwa,
S.Pd(sebenarnya banyak, tapi yang
disebutkan ini adalah menurut hemat penulis. Deretan nama-nama yang
meninggalkan rekam jejak di wadah-wadah kecil). Banyak teman-teman
seangkatan yang tidak peduli dengan hal-hal kecil. Tapi kami terus setia
belajar dan melakukan hal-hal kecil.
Dunia ini milik orang-orang yang setia pada
perkara-perkara kecil, penuh dengan semangat, motivasi tinggi serta kerja keras
yang unggul dan cerdas. Banyak orang pasti mempunyai kisah dan pengalaman hidup
yang berbeda. Hal itu tentu merupakan rekam jejak masing-masing orang yang
berjuang memuncaki klasemen kesuksesan. “Kesuksesan
adalah setiap detik kehidupan yang dijalani, bukan hasil akhir” ~John
Maxwell~. Sebagai bagian dari Alumni SD YPK Bomela, tentu sangat bangga akan
hal ini.
Penulis menulis artikel ini berawal dari
sebuah kebanggaan akan sesama alumni SD YPK Bomela yang mengenyam pendidikan di
New Zeland. Ditengah tangan-tangan besi yang merajik generasi ini mulai runtuh
berjatuhan. Guru-guru SD YPK Bomela mengalami kegoncangan oleh badai penyakit
sosial masyarakat. Marinus Aluwa, Amd.PAK; Titus Balyo; Panus Alya, Amd.PAK;
adalah sederet guru-guru yang hebat tapi meninggal. Siapa kami hari ini, tentu
merupakan sentuhan tangan besi mereka. Semoga artikel ini termotivasi bagi
generasi muda yang terus belajar.
Penulis : Panuel Maling, ST
Teleb!!
Teleb!!

No comments:
Post a Comment