Saturday, February 7, 2015

PENDIDIKAN MAMPU MENGUBAH POLA PIKIR PRIMITIVE




Penulis: Panuel Maling (Sekretaris IS-UKAM Wilayah Jayapura – Papua)

 Perkataan Kaisar Jepang itu dibuktikan dalam sejarah .Jepang bangkit dan menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama untuk menjadi suatu bangsa yang besar. Mereka akhirnya diperhitungkan oleh Negara – Negara barat karena kekuatan ekonominya yang terkenal di benua asia.

Di China juga demikian. Sebuah filosofi dari Negara tirai bambu ini berkata, “Jika anda mau membangun dalam satu tahun, tanamlah jagung. Jika anda mau membangun dalam 20 tahun, tanamlah pohon. Jika anda mau membangun dalam satu generasi, tanamlah manusia.” Filosofi itu menunjukan bahwa pembangunan suatu bangsa berhubungan erat dengan pengembangan kualitas sumber daya manusianya. Pembangunan itu harus dimulai dari pendidikan.

Visi pendidikan di abad ke – 21 yang diungkap oleh UNESCO juga memaparkan hal yang sama tentang pendidikan, yaitu :
1.    Learning to think (belajar bagaimana berpikir)
2.    Learning to do (belajar hidup atau belajar bagaimana berbuat/bekerja)
3.    Learning to be (belajar tetap hidup atau sebagaimana dirinya).
4.    Learning to live together (belajar untuk hidup bersama – sama)

Pertanyaannya, model pendidikan yang bagaimanakah yang sedang dibangun bersama saat ini? Seharusnya model pendidikan yang dibangun harus menghasilkan lulusan – lulusan yang membawa perubahan dalam segala aspek pembangunan daerah dan kehidupan berbangsa.

Di era berlakunya Undang – undang pemerintah No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi pemerintah provinsi Papua merupakan gerbang kebangkitan bangsa Papua dari garis kemiskinan, bukti perhatian pemerintah provinsi Papua terhadap sector pendidikan dapat mengalokasikan dana 30 persen. Kebijakan ini jauh lebih besar dibandingkan dengan aturan perundangan RI, minimalnya harus 20 persen anggaran pertahun yang diberikan untuk porsi Pendidikan. Kebijakan pula mendapat apresiasi dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof.Dr.Ir. Mohammad Nuh, DEA di sela – sela kunjungannya ke Papua. “Dalam aturan perundangan RI, minimalnya harus 20 persen anggaran pertahun diberikan untuk porsi Pendidikan, sehingga dengan kebijakan 30 persen di Papua, merupakan bukti kepedulian yang luar biasa dari pemerintah daerah,”ujarnya. Mendikbud berharap alokasi 30 persen ini benar – benar dimanfaatkan dinas, sekolah demi pengembangan sumber daya manusia di Provinsi Papua.
Mengacu pada kebijakan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Papua pada periode 2013 – 2018 ini memberi sinyal positif di daerah – daerah pelosok Papua yang saat ini Pemerintah daerahnya focus pada pengembangan sumber daya manusia (SDM) demi kemajuan daerah tersebut. Terbukti di beberapa Kabupaten Pegunungan Tengah Papua yang dahulu terkenal sebagai daerah terisolir, tertinggal dan terkenal sebagai daerah yang berada dibawah garis kemiskinan, kini kehadiran putra – putri terbaik pegunungan tengah di jajaran pemerintahan provinsi Papua maupun kabupaten/kota dapat diperhitungkan kualitas yang tidak kalah saingnya dengan tenaga kerja dari luar Papua. Bahkan menjadi parometer pembangunan di daerah – daerah terisolir, hal itu dapat dibuktikan hanya melalui pendidikan.

Papua akan dibangun sejajar dengan kemajuan bangsa – bangsa yang lain, hanya melalui Pendidikan. Untuk menjadikan Papua sebagai bangsa yang maju, mandiri dan sejahtera, sector pendidikan harus diprioritaskan dan pada penerapannya harus sejalan dengan irama gubernur dan wakil gubernur saat ini.

Jika di daerah – daerah pegunungan tengah Papua lainnya perhatian penuh pada pengembangan sumber daya manusia, bagaimana dengan daerah Kabupaten Yahukimo? Perhatian khusus pada sector pendidikan di kabupaten yahukimo saat ini terkenal bincang. Hal itu dapat terbukti dari perhatian pemerintah terhadap guru – guru yang saat ini mengabdi di daerah tidak diperhatikan baik kesejahteraan, penyediaan buku – buku yang juga tidak maksimal, serta beberapa kendala yang dialami pada daerah – daerah terpencil tidak diakomodir baik oleh pemerintah melalui dinas bersangkutan. Sungguh! Sangat memprihatinkan dalam keadaan seperti ini, karena hal itu dapat menyebabkan guru – guru yang dulunya menetap di daerah – daerah, sekarang sudah pindah tempat tinggal ke kota. Sehingga anak – anak di daerah terlantar bidang pendidikannya. Di saat seperti ini terjadi di daerah, pemerintah dalam hal dinas bersangkutan, justru menutup mata dalam kondisi seperti ini. Jika ini yang berjalan sejarah kontinyu, bagaimanakah caranya menentukan nasib kabupaten Yahukimo yang sejahtera, mandiri dan menjadi kabupaten yang unggul di Provinsi Papua?

Kemajuan sector pendidikan di daerah ini terkesan prihatin jika dibandingkan dengan perkembangan sector pendidikan di zaman dulu, misalnya di daerah Bomela, pada tahun 1990 – 2000 itu Guru – guru sangat aktif mengajar dan menetap di tempat.Tapi memasuki pada tahun 2001 hingga sekarang guru – guru yang bersedia mengabdi di daerah tinggal beberapa orang, bahkan antara 2000 – 2010 yang tetap mengajar hanya 3 orang di SD YPK Bomela. Lantas terkenal daerah tertinggal, terbelakang dan tidak terjangkau. Meski demikian, hasil dari pengabdian yang tanpa mengenal lelah, pengabdian yang sesungguhnya dengan hati, mampu bersaing dengan daerah – daerah lain.

Seiring berjalannya waktu yang diimbangi dengan kemajuan di sector pendidikan di daerah Bomela Kabupaten Yahukimo, sehingga kemajuan itu mengantarkan pola pikir anak – anak daerah ikut terpengaruh aktif. Sebenarnya pendidikan itu sudah biasanya dilakukan oleh orang – orang terdahulu kala sebelum injil diberitakan, tapi terkenal pendidikan adat yang masih primitive, walaupun layaknya pendidikan non formal saatini. Meski pendidikan non formal tapi pada prakteknya sangat efektif. Pendidikan adat itu pun dapat diajarkan dengan jangka waktu yang ditentukan dan diajarkan oleh orang – orang yang terpilih berdasarkan pengalaman, kecerdasan, keaktifan dan tentunya didukung dengan ilmu hitam yang jitu. Namun demikian, pendidikan adat itu pun tidak berpengaruh aktif dalam mengubah pola pikir. Lingkungan dimana mereka ada, itu pun sangat mempengaruhi dalam peradaban manusia di zaman itu.
 
Peradaban perkembangan zaman yang ditandai dengan penyebaran Injil ke seluruh pelosok Papua melalui hamba – hambaTuhan, mampu mengubah situasi itu. Dalam keadaan itu sector pendidikan menjadi perhatian utama bagi pemberita – pemberita Injil Kristus. Sehingga akhirnya putra – putri (anak-anak) dari daerah Bomela mengenal pendidikan dan mampu bersaing dengan orang lain. Sejak itulah pola pikir dahulu alias primitive berubah, bahkan perkembangan zaman yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahun dan teknologi ini mampu mengeserkan pola pikir primitive. Satu hal yang pasti bahwa kemajuan daerah dapat ditentukan oleh kemajuan sector pendidikan pada daerah itu. Pendidikan mampu mengubah segalanya, baik yang berdampak positif maupun yang berdampak negative.
 
Semoga Artikel ini bermanfaat bagi Pembaca sekalian! 
Teleb!

No comments:

Post a Comment