Penulis: Panuel Maling (Sekretaris IS-UKAM Wilayah Jayapura – Papua)
Perkataan Kaisar Jepang itu dibuktikan dalam sejarah .Jepang bangkit dan menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama untuk menjadi suatu bangsa
yang besar. Mereka akhirnya diperhitungkan oleh Negara – Negara
barat karena kekuatan ekonominya yang terkenal di benua asia.
Di China
juga demikian. Sebuah filosofi dari Negara tirai bambu ini berkata, “Jika anda mau membangun dalam satu tahun,
tanamlah jagung. Jika anda mau membangun dalam 20 tahun,
tanamlah pohon. Jika anda mau membangun dalam satu generasi, tanamlah manusia.” Filosofi itu menunjukan bahwa pembangunan suatu bangsa berhubungan erat dengan pengembangan kualitas sumber daya manusianya. Pembangunan
itu harus dimulai dari pendidikan.
Visi pendidikan di abad ke – 21 yang
diungkap oleh UNESCO juga memaparkan hal yang sama tentang pendidikan, yaitu :
1.
Learning
to think (belajar bagaimana berpikir)
2.
Learning
to do (belajar hidup atau belajar bagaimana berbuat/bekerja)
3.
Learning
to be (belajar tetap hidup atau sebagaimana dirinya).
4.
Learning
to live together (belajar untuk hidup bersama – sama)
Pertanyaannya, model pendidikan yang
bagaimanakah yang sedang dibangun bersama saat ini? Seharusnya model pendidikan yang
dibangun harus menghasilkan lulusan – lulusan yang
membawa perubahan dalam segala aspek pembangunan daerah dan kehidupan berbangsa.
Di era berlakunya Undang –
undang pemerintah No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi pemerintah provinsi
Papua merupakan gerbang kebangkitan bangsa Papua dari garis kemiskinan,
bukti perhatian pemerintah provinsi Papua terhadap sector
pendidikan dapat mengalokasikan dana 30 persen.
Kebijakan ini jauh lebih besar dibandingkan dengan aturan perundangan RI,
minimalnya harus 20 persen anggaran pertahun yang
diberikan untuk porsi Pendidikan. Kebijakan pula
mendapat apresiasi dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Prof.Dr.Ir.
Mohammad Nuh, DEA di sela – sela kunjungannya ke Papua. “Dalam aturan perundangan
RI, minimalnya harus 20 persen anggaran pertahun diberikan untuk porsi Pendidikan,
sehingga dengan kebijakan 30 persen di Papua, merupakan bukti kepedulian yang luar biasa dari pemerintah daerah,”ujarnya. Mendikbud berharap alokasi
30 persen ini benar – benar dimanfaatkan dinas, sekolah demi
pengembangan sumber daya manusia di Provinsi Papua.
Mengacu pada kebijakan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi
Papua pada periode 2013 – 2018 ini memberi sinyal positif di daerah – daerah pelosok
Papua yang saat ini Pemerintah daerahnya focus pada pengembangan sumber daya manusia
(SDM) demi kemajuan daerah tersebut. Terbukti di beberapa Kabupaten Pegunungan
Tengah Papua yang dahulu terkenal sebagai daerah terisolir,
tertinggal dan terkenal sebagai daerah yang berada dibawah garis kemiskinan,
kini kehadiran putra – putri terbaik pegunungan tengah di
jajaran pemerintahan provinsi Papua maupun kabupaten/kota dapat diperhitungkan kualitas
yang tidak kalah saingnya dengan tenaga kerja dari luar Papua.
Bahkan menjadi parometer pembangunan di daerah – daerah terisolir,
hal itu dapat dibuktikan hanya melalui pendidikan.
Papua
akan dibangun sejajar dengan kemajuan bangsa – bangsa yang lain,
hanya melalui Pendidikan. Untuk menjadikan Papua sebagai bangsa yang maju,
mandiri dan sejahtera, sector
pendidikan harus diprioritaskan dan pada penerapannya harus sejalan dengan irama gubernur dan wakil gubernur saat ini.
Jika
di daerah – daerah pegunungan tengah Papua
lainnya perhatian penuh pada pengembangan sumber daya manusia,
bagaimana dengan daerah Kabupaten Yahukimo? Perhatian khusus pada sector pendidikan di
kabupaten yahukimo saat ini terkenal bincang. Hal
itu dapat terbukti dari perhatian pemerintah terhadap guru – guru yang saat ini mengabdi
di daerah tidak diperhatikan baik kesejahteraan, penyediaan buku – buku yang
juga tidak maksimal, serta beberapa kendala yang dialami pada daerah –
daerah terpencil tidak diakomodir baik oleh pemerintah melalui dinas bersangkutan.
Sungguh! Sangat memprihatinkan dalam keadaan seperti ini,
karena hal itu dapat menyebabkan guru – guru yang dulunya menetap di daerah –
daerah, sekarang sudah pindah tempat tinggal ke kota. Sehingga anak – anak di
daerah terlantar bidang pendidikannya. Di saat seperti ini terjadi di daerah,
pemerintah dalam hal dinas bersangkutan, justru menutup mata dalam kondisi seperti ini.
Jika ini yang berjalan sejarah kontinyu,
bagaimanakah caranya menentukan nasib kabupaten Yahukimo yang sejahtera,
mandiri dan menjadi kabupaten yang unggul di Provinsi Papua?
Kemajuan
sector pendidikan di daerah ini terkesan prihatin jika dibandingkan dengan perkembangan
sector pendidikan di zaman dulu, misalnya di daerah Bomela, pada tahun 1990 – 2000
itu Guru – guru sangat aktif mengajar dan menetap di tempat.Tapi memasuki pada tahun
2001 hingga sekarang guru – guru yang bersedia mengabdi di daerah tinggal beberapa
orang, bahkan antara 2000 – 2010 yang tetap mengajar hanya 3 orang di SD YPK
Bomela. Lantas terkenal daerah tertinggal,
terbelakang dan tidak terjangkau. Meski demikian, hasil dari pengabdian yang
tanpa mengenal lelah, pengabdian yang sesungguhnya dengan hati,
mampu bersaing dengan daerah – daerah lain.
Seiring berjalannya waktu yang
diimbangi dengan kemajuan di sector pendidikan di
daerah Bomela Kabupaten Yahukimo, sehingga kemajuan itu mengantarkan pola pikir anak –
anak daerah ikut terpengaruh aktif. Sebenarnya pendidikan itu sudah biasanya dilakukan oleh
orang – orang terdahulu kala sebelum injil diberitakan, tapi terkenal pendidikan adat
yang masih primitive, walaupun layaknya pendidikan non formal
saatini. Meski pendidikan non formal
tapi pada prakteknya sangat efektif. Pendidikan adat itu pun
dapat diajarkan dengan jangka waktu yang ditentukan dan diajarkan oleh orang – orang
yang terpilih berdasarkan pengalaman, kecerdasan,
keaktifan dan tentunya didukung dengan ilmu hitam yang jitu. Namun demikian,
pendidikan adat itu pun
tidak berpengaruh aktif dalam mengubah pola pikir. Lingkungan dimana mereka ada, itu pun
sangat mempengaruhi dalam peradaban manusia di zaman itu.
Peradaban perkembangan zaman
yang ditandai dengan penyebaran Injil ke seluruh pelosok Papua melalui hamba – hambaTuhan,
mampu mengubah situasi itu. Dalam keadaan itu sector
pendidikan menjadi perhatian utama bagi pemberita –
pemberita Injil Kristus. Sehingga akhirnya putra – putri (anak-anak)
dari daerah Bomela mengenal pendidikan dan mampu bersaing dengan orang lain.
Sejak itulah pola pikir dahulu alias primitive berubah, bahkan perkembangan zaman
yang
ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahun dan teknologi ini mampu mengeserkan pola pikir
primitive. Satu hal yang pasti bahwa kemajuan daerah dapat ditentukan oleh kemajuan
sector pendidikan pada daerah itu. Pendidikan mampu mengubah segalanya, baik yang
berdampak positif maupun yang berdampak negative.
Semoga Artikel ini bermanfaat bagi Pembaca sekalian!
Teleb!

No comments:
Post a Comment