Thursday, April 24, 2014

AKANKAH DISTRIK BOMELA MENJADI KORBAN KALI KE-3 DIATAS KEPENTINGAN PARTAI POLITIK


Foto : Nampak ibu kota Distik Bomela

Kerugian Distrik Bomela 10 tahun (2 Periode) nampaknya tidak ada arti untuk menjadi sebuah bahan evaluasi dan bangkit memperjuangkan kepentingan daerah di pentas politik (pileg) 2014 di muka umum kabupaten Yahukimo. Hal ini tentu dapat terjadi karena sejalan dengan sistem pemerintahan kabupaten Yahukimo, dibawah kepemimpinan Bupati "Dr. Ones Pahabol, SE,.MM" yang tidak sesuai dengan sistem pemerintahan yang mengacu pada Undang-undang Pemerintahan (UUP). Namun berazaskan pemerintahan dibawah kekuasaan partai politik (Partai Golkar).

Berlakunya sistem pemerintahan dibawah kekuasaan partai politik (Partai Golkar) dapat melahirkan kelompok oposisi yang berjuang memenangkan partai dan lawan terhadap partai penguasa kabupaten Yahukimo dibawah kepemimpinan Bupati "Dr. Ones Pahabol, SE,.MM". Sejalan dengan itu, beberapa tahun terakhir upaya mengalahkan partai penguasa oleh orang-orang yang tergabung dalam partai-partai lain di Pileg 2 periode maupun Pilkada 2 periode kembali sirna, alias mengalah dari partai penguasa. Upaya itu terus dilakukan hingga memasuki pada dekade ke-3 pileg 2014 muncullah partai baru yaitu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), milik orang UNA. Hadirnya partai PKB di Pileg 2014 benar-benar membawa dampak besar di belahan timur kabupaten Yahukimo yakni wilayah UNA. 

Partai PKB telah memenangkan perolehan suara terbanyak (unggul) di wilayah UNA dengan jumlah suara >800 suara, hal ini membuktikan kalau ada ketidak percayaan orang UNA terhadap kepemimpinan Bupati "Dr. Ones Pahabol, SE,.MM" dibawah kekuasaan partai Golkar yang bernuansa politik kepentingan dirinya semata. Dengan demikian, peluang keberuntungan yang ada di ampang pintu kemenangan kembali sirna begitu saja tanpa kompromi di Distrik Bomela.

Beberapa Calon Legislatif (Caleg) asal Distrik Bomela seolah-seolah baru bangun dari tempat tidur. Hal itu dapat terjadi karena diantara para caleg maupun pimpinan partai tidak mempunyai komitmen untuk mengedepankan kepentingan umum (daerah) di pentas politik tanpa mengedepankan kepentingan partai dan kepentingan individu. Sehingga suara rakyat di Distrik Bomela Daftar Pemilih Tetap (DPT) dari 3.300 suara tercecer diantara 3 Caleg tersebut. Berikut Perolehan suara masing-masing caleg :
1. Partai PKB (Esana Walle) : 1.741 suara
2. Partai Golkar (Andreas Alya, Amd. Sos) : 1. 034 Suara
3. Partai Demokrat (Kileon Aluwa) : 525 Suara

Sehingga memasuki pada hari terakhir rekapan suara PPD tingkat Distrik di KPU (Jumat, 18 April 2014) juga semua Caleg pada prinsip mempertahankan suara. Padahal Perolehan suara masing-masing Caleg dalam hal ini dukungan pada Caleg dari daerah lain juga terbuka, misalnya Caleg dari Partai Golkar (Andreas Alya, Amd. Sos) memperoleh tambahan suara dari daerah lain mencapai >2.000 dan ini tentu membuka peluang untuk mendapatkan Kursi Legislatif perwakilan masyarakat Distrik Bomela di Kabupaten Yahukimo, jika ada keterbukaan penggabungan suara dari kedua caleg tersebut.

Dengan demikian, jika tidak ada tambahan suara pada masing-masing caleg diatas sampai rapat Pleno tingkat Kabupaten di KPU dilaksanakan, maka sudah tentu "Distrik Bomela Menjadi Korban Kali ke-3 Diatas Kepentingan Partai Politik". kenapa demikian? karena partai PKB juga mempunyai kepentingan untuk mendapatkan kursi, partai Golkar juga mempunyai kepentingan yang sejalan juga dengan pemerintahan berazaskan kekuasaan partai politik, begitu pula dengan partai demokrat. 

Dan akhirnya akankah ada pembangunan di Distrik Bomela selama 2 Tahun di bawah pimpinan Bupati Yahukimo "Dr. Ones Pahabol, SE,.MM" tanpa ada perwakilan rakyat Bomela di Kursi Legilatif??? akankah desa-desa yang tidak berpihak pada parta Golkar akan berkorban??

mari kita tunggu hasil akhir rapat pleno KPU..!

Bersambung.................


No comments:

Post a Comment