Bencana Tidak Disukai Orang. Seandainya Memungkinkan, Bencana dienyahkan dari Muka Bumi. Namun, tahukah kita di balik bencana tersimpan maksud yang menyadarkan.
By : Maling, Panuel (maret 2014)
Ketika sedang menulis artikel ini, berbagai media nasional dan lokal ramai melaporkan beragam bencana yang melanda tanah air. Banjir dan Longsor berskala besar di Bomela yang menelan kerugian kebun masyarakat 3 kampung (Kitikni, Bomela Atas dan Sumbat), banjir bandang dan tanah longsor di Manado menelan korban. Lahar dingin Gunung Merapi menyeret truk pengangkut pasir dan mengakibatkan nyawa melayang. banjir menenggelamkan beberapa tempat di Jakarta dan mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Gunung Sinabung di Tanah Karo Sumatera Utara belum memberi tanda kapan akan berhenti erupsi. Berita serupa terdengar di berbagai daerah di Indonesia bahkan Luar Negeri.
Dalam hati muncul pertanyaan sederhana, "Mengapa manusia yang berintelektual tinggi kalah dengan alam yang tidak memiliki semua itu?" Sungguh pertanyaan tersebut membawa perenungan mendalam. Seandainya pertanyaan yang sama dialamatkan kepada Anda, kira - kira apa jawaban anda? Dalam perenungan mendalam, penulis sampai pada kesimpulan bahwa manusia yang hebat tersebut harus mengakui dengan rendah hati bahwa ia tak kuasa melawan alam. Kalau alam saja tak mampu ditaklukkan, bagaimana dengan pencipta alam semesta ini. Pasti, Dia jauh lebih hebat dari ciptaan-Nya.
Bahasa Bencana, bahasa Peringatan
Para intelektual, akademisi, selalu berbicara mengenai kemajuan teknologi dan manfaatnya bagi kehidupan. Tentu, kita menyambut baik semua itu. Teknologi diperlukan dalam banyak sisi kehidupan. Berkat kemajuan teknologi komunikasi, kita tidak harus pergi ke kantor pos untuk mengirim surat, kita tidak harus tulis surat dengan tangan untuk kirim ke kota-kota yang lain. Sekarang hal itu dapat dilakukan melalui surat elektronik (e-mail) atau jejaring sosial berbiaya sangat murah dan cepat.
Akan tetapi, bencana mengingatkan kita bahwa teknologi tidak selamanya mampu menolong manusia. Teknologi menemui kebuntuan pada titik tertentu. banjir bandang menerjang tanggul hingga jebol meskipun tanggul telah dibangun dengan teknologi canggih. Rekayasa cuaca dapat dilakukan, tetapi hanya bertahan sekian lama, lalu akan kembali ke keadaan awal. Hujan pasti turun tanpa meminta izin para pakar teknologi.
Bahasa bencana ialah bahasa peringatan agar manusia tidak sombong. Sehebat apa pun pengetahuan yang di punyai, ada titik yang tidak bisa terpecahkan olehnya. Hal ini bukan berarti kita tidak perlu mengejar dan belajar ilmu. Namun, kiranya kita sadar bahwa ilmu bukan segala-galanya. Seseorang yang masih mengaku Kristen di negeri ini pernah mengatakan Iman kepada Tuhan Yesus lebih baik diganti dengan ilmu pengetahuan karena ilmu pengetahuan telah melalui seleksi keilmuan. Menurutnya, iman kepada Tuhan Yesus tidak dapat dibuktikan secara ilmu pengetahuan. Namun, pemahaman demikian terbantahkan dengan sendirinya. Ilmu pengetahuan bukan segalanya. Ilmu pengetahuan ada keterbatasan dan titik tertentu dimana ia bungkam. Ketika seorang ibu sembuh total dari kanker yang di derita puluhan tahun, dokter bingung, bagaimana mungkin doa bisa menyembuhkan kanker.
Ingat Penyebab Utama
Semua kecanggihan manusia dalam berbagai bidang hanyalah anugerah Allah. berbicara mengenai anugerah mengingatkan manusia agar tidak berlaku sombong. Pencapaian apa pun yang pernah digapai manusia bukan karena kehebatannya. Lagi-lagi, semua adalah pemberian Tuhan secara gratis bagi manusia. Ketika ia mulai tidak menghiraukan Tuhan dalam hidup, hasil pencapaian itu mulai dikoreksi agar ia sadar dan kembali kepada penyebab utama, yakni Tuhan sendiri.
Bagaimana sebaiknya kita memahami bencana? bagi penulis, bencana adalah cara efektif yang dipakai Tuhan untuk menyapa dengan kasih. Manusia cenderung mengeraskan hati, bahkan merasa tidak perlu Tuhan selama masih kuat. Namun, ketika bencana menyapa, manusia sadar bahwa tanpa Tuhan ia bukan siapa-siapa. Harta yang merupakan berkat Tuhan sering diunggulkan melampaui Tuhan sendiri. Namun, ketika harta dihanyutkan banjir, sadarlah ia bahwa harta bukan segala-galanya. Tuhan diatas segalanya!.
Selamat Membaca!
Teleb!
No comments:
Post a Comment