Thursday, April 24, 2014

MEMAHAMI KESEJATIAN DIRI YANG ASASI "Rendah Hati"

"Mereka yang betul - betul "Isi" tidak pernah takut kalau dirinya tampak Kosong"
Maling, Panuel (April 2014).

Seorang murid begitu mengagumi gurunya. Baginya sang guru adalah sumber pengetahuan, hikmat dan kebijaksanaan. Dalam benaknya, sang guru adalah segala-galanya, begitu luar biasa, dan dapat diandalkan. Ketika kekagumannya semakin kuat hingga cenderung menempatkan sang guru begitu tinggi, sang guru mengingatkan dia dengan sebaris kalimat : "Sesungguhnya semua yang isi itu kosong, dan semua yang kosong itu isi". kalimat pendek itu membuat dirinya bertanya - tanya tentang makna yang sesungguhnya.

"Semua yang isi itu kosong dan semua yang kosong itu isi" adalah kesejatian diri yang asasi. Itulah hakikat yang sesungguhnya dari setiap pribadi. Sebuah metafora yang di dalamnya setiap kita, siapa pun dan bagaimana pun keberadaan kita, tidak pernah ada yang "paling" dan tidak pernah ada yang "minim" sepenuhnya.

Segala sesuatu yang dianggap hebat, kuat, dan sempurna sesungguhnya bukanlah apa-apa. Semua itu hanyalah sementara, sebuah kefanaan dan tidak pernah ada yang kekal. Sesaat memang tampak begitu luar biasa, tetapi dalam sekejap bisa saja berubah menjadi sangat berbeda. Oleh karena itu, kita tidak bisa dan tidak mungkin membanggakan diri dengan sesuatu yang tampak "isi" dalam diri kita, seperti jabatan, kedudukan, posisi, kepemilikan, dan apa pun. Kita tidak mungkin menjaga dan terus mempertahankan semua itu selalu melekat dalam diri kita. Ada waktunya kita harus melepaskannya. Begitu teropsesi terhadap apa yang tampak isi hanya akan membuat kita menjadi pribadi yang kosong. Kita merasa isi dan penuh padahal sesungguhnya kosong.

Sebaliknya, siapa pun yang siap mengosongkan diri, dan melepaskan semua yang tampak isi tanpa merasa berat, tetapi dengan rela dan tanpa beban, sesungguhnya ialah pribadi yang benar-benar "isi". Mereka yang benar-benar "isi" adalah mereka yang rendah hati, tidak sombing. Bukankah bulir gandum semakin berisi akan semakin merunduk, tidak berdiri tegak dan menantang sekitarnya. Hanya bulir-bulir gandum yang kosong sajalah yang berkasnya menjulang.

Tukang Sapu Sekelas Beethoven
Mereka yang betul-betul "isi" tidak pernah takut kalau dirinya tampak kosong karena "isi" atau "kosong" tidak pernah ditentukan oleh penilaian dari luar.

Hal lain yang hendak saya sampaikan adalah: "Nobody has the whole truth, every body has piece of everyting". Di dunia ini  tidak pernah ada seorang pun yang memiliki seluruh kebenaran; masing-masing orang hanya memiliki sepotong kebenaran (termasuk saya). Oleh karena itu, tidak pernah ada seorang pun di dunia ini yang sepenuhnya sempurna atau sepenuhnya "isi", selalu saja ada bagian dari dirinya yang dipenuhi oleh orang lain. Begitu juga sebaliknya, tidak pernah ada di dunia ini pribadi yang sepenuhnya "kosong", selalu saja ia dapat memberikan sumbangsih untuk orang lain agar dapat dipenuhkan.

Apa pun dan bagaimana pun keadaan kita, syukurilah dan buatlah yang terbaik dari kehidupan yang kita jalani. Berikanlah semua itu sebagai kontribusi kita kepada dunia. Martin Luther King pernah berkata, "Seandainya pun seorang manusia ditakdirkan untuk menjadi seorang tukang sapu jalan, hendaknya dia menyapu jalan sesempurna Michaelangelo ketika melukis, seindah Beethoven ketika menciptakan musik, dan seagung Shakespeare ketika menuliskan puisi-puisinya. Ia harus menyapu jalanan dengan begitu baik sehingga semua yang dilangit dan di bumi ini ibaratnya terhenti untuk mengagumi dedikasi dan karyanya, sehingga banyak orang berkata, "Di sana ada tukang sapu yang mengerjakan semua pekerjaannya dengan luar biasa."

Kepada pengunjung blog semoga diberkati dengan artikel sederhana ini!

Teleb!

No comments:

Post a Comment